Bandung, 26 Mei 2015

Visi :

RRI Terdepan Menguatkan Kepribadian Bangsa dan Promotor Andal Konten Lokal   

Misi :

Membangkitkan Potensi Alamiah RRI, Integrasi Teknologi Menuju Radio 3.0, dan Menggelorakan Gerakan Indonesia Mendengar 

 PENGANTAR

Sebagai seorang inovator dalam domain teknologi penyiaran beserta aspek luasnya, penulis memahami bahwa peran sejarah RRI di negeri ini sudah terbukti sebagai wahana yang strategis dalam peristiwa penting hingga kondisi krisis. Salah satunya adalah prestasi emas penyebarluasan naskah Proklamasi Kemerdekaan RI ke seluruh penjuru dunia dalam waktu yang cepat. 

Jika terpilih menjadi Dewan Pengawas LPP RRI, penulis memiliki Visi menjadikan RRI Terdepan Menguatkan Kepribadian Bangsa dan Promotor Andal Konten Lokal. Visi tersebut searah dengan langkah Pemerintahan Presiden Joko Widodo serta menunjang program Kabinet Kerja yang sejak awal gencar melakukan Revolusi Mental dan menata kembali sisi kepribadian bangsa dalam berbagai aspek. Dalam era konseptual saat ini perlunya promotor konten lokal yang tersebar di seluruh pelosok tanah air. Untuk kedepan RRI harus mampu menjadi promotor konten lokal yang melibatkan integrasi teknologi terkini.

Visi diatas bisa segera terwujud jika disertai dengan Misi yang jeli dan menjangkau jauh kedepan dan terkait dengan kondisi aktual RRI. Jika terpilih menjadi Dewan Pengawas LPP RRI, penulis akan menjalankan 3 misi utama yakni, pertama, Membangkitkan Potensi Alamiah RRI. Kedua, Melakukan Integrasi Teknologi Menuju Era Radio 3.0. Sebagai inovator, penulis memahami dan terlibat dalam rancang bangun era Radio 1.0, era Radio 2.0 dan kini beranjak membuat karya bertajuk 3.0 yang telah melibatkan kemajuan Teknologi Informasi terkini termasuk Learning Machine atau sistem kecerdasan buatan. Ketiga, Menggelorakan Gerakan Indonesia Mendengar, yakni sebuah gawe nasional terpadu lintas kementerian. Yang bertujuan mewujudkan homeotik Indonesia Kreatif sebagai gerakan budaya serta konsolidasi portofolio bisnis dan industri kreatif khususnya bidang Media Digital. Sehingga terwujudnya ekosistem ekonomi kreatif yang tangguh dan mampu bersaing secara global. 

1.  Membangkitkan Potensi Alamiah RRI

Di negeri ini RRI merupakan radio yang mempunyai  jaringan siaran terbesar dengan postur sumber daya sekitar 7.192 orang. Mengelola 81 stasiun penyiaran dengan 191 programa. Dan berdasarkan penelitian yang diselenggarakan Universitas Indonesia pada tahun 2003, RRI telah menjangkau 83 % penduduk Indonesia. Tentunya pada saat ini sudah menjangkau seluruh pelosok negeri, termasuk sepanjang daerah perbatasan.

Itu semua merupakan potensi alamiah RRI yang harus segera dibangkitkan.  Pesatnya kemajuan teknologi informasi menuntut RRI untuk segera menemukan kesadaran profesionalnya, sehingga bisa dikelola lebih scientific. Kesadaran tersebut hendaknya jangan pudar karena dihadang oleh mahalnya perangkat impor. Rintangan tersebut bisa dilompati dengan inovasi teknologi untuk mengakselerasi dan revitalisasi portofolio RRI yang berupa 3 program yaitu Programa Daerah yang melayani sampai pedesaan, Programa Kota (Pro II) utk masyarakat perkotaan, dan Programa III (Pro III) yang menyajikan Berita dan Informasi (News Channel) kepada masyarakat luas..

Potensi alami radio di Indonesia sebaiknya dimanfaatkan untuk memperkuat konektivitas bangsa. Hal itu sesuai dengan agenda Badan PBB, UNESCO terkait dengan peran media radio yang masih signifikan bagi warga dunia ditengah pesatnya konvergensi TIK. Radio masih berperan penting sebagai wahana transformasi sosial. Oleh sebab itu UNESCO melihat pentingnya usaha untuk mengembalikan kodrat radio sebagai media sosial yang  merakyat dan sarana promosi yang efektif.  Apalagi media radio selain sebagai industri dan komunitas juga memiliki nilai strategis dalam pengembang potensi hiperlokal atau perdesaan.

Nilai strategis diatas sebaiknya disinkronkan lebih lanjut dengan kebijakan konektivitas nasional yang tertuang dalam program Kabinet Kerja, khususnya dari Kominfo. Dimana konektivitas tidak hanya Fisik (Physical connectivity) dan Konektivitas Kelembagaan (Institutional Connectivity). Tetapi Konektivitas Sosial Budaya ( People-to-People Connectivity ) yang terdiri dari unsur budaya, potensi ekonomi lokal dan pariwisata bisa diakselerasi dan berkembang.

2. Integrasi Teknologi Menuju Ekosistem Radio 3.0

Menginjak 2015 bangsa Indonesia semestinya bisa beranjak dari kondisi terpaku pada konektivitas dasar.   Indonesia harus bisa mengikuti tren global yang bertajuk Internet of Things, atau dikenal dengan singkatan IoT termasuk Connected Audio Device, dan memanfaatkan Big Data. Merupakan sistem untuk memperluas manfaat dari konektivitas internet yang tersambung secara terus-menerus. Dengan sistem IoT banyak perangkat dan layanan elektronik bisa terhubung satu sama lainnya, termasuk perangkat yang dapat menerima dan/atau memancarkan audio, sehingga menjadi solusi yang terintegrasi berkat dukungan sistem Big Data.

RRI mau tidak mau harus memaknai  The Era of Integration and Collaboration. Perlu segera melakukan Integrasi teknologi bagi RRI untuk menuju ekosistem kolaboratif Radio 3.0. Untuk menuju kesana model transformasi di tubuh RRI sudah harus sudah tuntas. Penulis memiliki rumusan model transformasi sebagai berikut.

2.1 Model Transformasi RRI

Model transformasional RRI akan lebih ideal jika memanfaatkan produk dan teknologi hasil Research & Development oleh putra-putri Indonesia sendiri. Apalagi keberpihakan produk dalam negeri sekarang ini menjadi perhatian penting dari Kabinet Kerja yang dipimpin oleh Presiden Joko Widodo dalam rangka membangkitkan industri dalam negri serta kemandirian nasional. Selain itu pentingnya beberapa effort dan inovasi teknologi untuk mencegah inefisiensi ditubuh RRI. Yakni,

Pertama, dengan implementasi e-Business yang dimulai dari e-Procurement & e-Auction sampai dengan ERP (Enterprise Ressources Planning) & CRM (Customer Relationship Management)

Kedua, Implementasi sistem online untuk monitor kondisi peralatan siaran, inventori, jadwal & aktifitas perawatan, monitoring biaya perawatan. Apabila biaya perawatan peralatan dengan teknologi lama terlalu mahal maka dibuka peluang untuk mengganti dengan peralatan dengan teknologi baru.  

Ketiga, komputerisasi sistem siaran secara end-to-end (Radio Broadcasting Integrated System berbasis Sistem Radio 2.0) dengan memanfatkan kandungan lokal dan dukungan riset dari lembaga-lembaga di tanah air.

Keempat, implementasi infrastruktur siaran publik berbasis konvergensi teknologi (IP Based Technology) baik berbasis Wireline (Cable, Fiber Optic) atau Wireless (Satellit, Jaringan GSM/CDMA) baik milik National Flag Carrier (Telkom atau Telkomsel) ataupun milik sendiri. Pemanfaatan dan implementasi DVB-IP VSAT System sebagai tulang-punggung teknologi infrastruktur siaran milik sendiri, relatif tepat untuk dapat menjangkau seluruh wilayah NKRI yang begitu luas dan kompleks juga dapat dipertimbangkan. 

Kelima, Implementasi teknologi Big Data untuk mewujudkan terbentuknya Integrated National News & Information Network. Pembangunan jaringan informasi lembaga penyiaran publik nasional dan daerah yang terintegrasi akan mendorong perubahan paradigma penyediaan informasi dan konten nasional dan daerah yang pada gilirannya dapat mendorong spirit persatuan dan kesatuan bangsa serta memfasilitasi perkembangan budaya dan industri kreatif.  

Keenam, Penyediaan layanan Public to Public Broadcasting berupa penyediaan infrastruktur siaran inter dan antar daerah bagi LPP Daerah (TV dan Radio Publik Daerah) yang berbasis IP Based System termasuk infrastrukur siaran dari dari publik ke publik.

Ketujuh, Penyediaan fasilitas penerimaan dan penyebaran informasi dan siaran murah berbasis IoT dan Connected Audio Device (PC, Smarphone, Tablet, SmartTV, Connected Car, …) yang bermanfaat bagi masyarakat luas (On demand Broadcasting & Distance Learning), misalnya untuk siaran pendidikan, pelatihan IPTEK jarak jauh, apresiasi seni dan budaya.

2.2 Mendorong LPP Lokal

Proses transformasi teknologi dan konten di RRI pada gilirannya akan berdampak positif bagi LPP Lokal. Sistem dan teknologi RRI sebaiknya diarahkan juga untuk memberdayakan LPP Lokal  yang dimiliki dan dikelola oleh Pemerintah Daerah. Mestinya dengan mengacu pada PP 11/2005 pasal 25 ayat (5) dan (6), bahwa LPP Lokal boleh beriklan. Dengan ketentuan siaran iklan maksimal 15% dari seluruh waktu siaran dan iklan layanan masyarakat paling sedikit menempati 30% dari waktu siaran iklan. Ini merupakan leverage yang harus disikapi secara baik. Dengan demikian LPP Lokal sangat potensial untuk mencerdaskan bangsa dan mampu mempromosikan produk dan potensi pariwisata daerah. Dewan Direksi RRI yang dipilih Dewas RRI nantinya harus mampu memberikan solusi terhadap LPP Lokal agar bisa mengimplementasikan sistem radio dengan skema pembiayaan yang ideal.

3. Mengelorakan Gerakan Indonesia Mendengar

Misi Gerakan Indonesia Mendengar (GIM) oleh RRI bertujuan mewujudkan homeotik Indonesia Kreatif sebagai gerakan budaya serta konsolidasi portofolio bisnis dan industri kreatif khususnya bidang media digital. Sehingga terwujudnya ekosistem ekonomi kreatif yang tangguh dan mampu bersaing secara global.

GIM diharapkan dapat memecahkan empat isu utama yang diusungnya,  yakni; Pertama, mengatasi pembajakan musik secara persuasif. Kedua, merupakan promosi keanekaragaman seni dan budaya lokal.Ketiga, merupakan promosi dan mengangkat potensi pariwisata dan ekonomi kreatif lokal.Keempat, merupakan upaya modernisasi teknologi dan bisnis media radio.

3.1 Mengatasi  Pembajakan Musik Secara Persuasif & Kreatif

GIM mendorong generasi muda dan masyarakat pada umumnya hingga kepelosok Nusantara untuk menikmati musik legal bahkan gratis melalui radio. Pasar dan potensi sumber daya musik Indonesia sangat besar. Sayangnya industri musik negeri ini sedang bergelut mencari solusi hadapi masalah disintermediasi.Dampak masalah tersebut adalah penurunan drastis keuntungan hingga ancaman kebangkrutan akibat perkembangan teknologi digital.

Aksesibilitas pada musik telah memunculkan perluasan dan diversifikasi yang besar pada konsumsi musik.Tentunya eksistensi internet berperan penting pada diversifikasi.Aksesibilitas sangat tergantung pada inovasi teknologi suatu bangsa. Perlu  model ke Indonesiaan untuk mengimplementasikan model yang lebih atraktif.  

Marketing industri musik kedepan memerlukan ekosistem baru.Ekosistem semakin ideal jika diakselerasi dengan mengangkat konsep marketing kedalam arena komunitas, nilai-nilai dan human spirit. Aspek human spirit marketing merupakan soft power untuk menjelaskan suatu pendekatan yang bersifat persuasif, komprehensif, menyuarakan hati nurani, serta manaburkan empati lewat komunitas atau klub-klub radio. Selama ini lebih mengedepankan upaya kebalikannya yakni marketing bercorak hard power dengan memakai cara koersi dan mobilisasi aparat untuk mengatasi modus ilegal dan pembajakan. Upaya ini kurang efektif karena terbatasnya aparat dan membutuhkan effort yang banyak.

3.Promotor Keanekaragaman Seni dan Budaya Lokal

GIM turut mendorong SDM RRI dan para praktisi radio lainnya untuk mempromosikan keanekaragaman seni dan budaya lokal dengan cara memproduksi berbagai konten yang berkualitas sebanyak-banyaknya. Konten ini meliputi beragam info lokal dan pertunjukan seni dan budaya, aneka cerita dan dongeng, sandiwara radio, informasi wisata dan kuliner, dan berbagai kreatifitas promosi berbasis audio dari seluruh pelosok Nusantara.

Dengan GIM insan radio didorong untuk memproduksi konten-konten yang menimbulkan gelora optimisme bangsa dan menjunjung jurnalisme positif (good news).Serta memiliki kepedulian terhadap lingkungan (environment preservation), penghormatan atas keanekaragaman seni dan budaya lokal yang menjunjung tinggi nilai-nilai Bhineka Tunggal Ika.

3.Promotor Potensi Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Lokal

Indonesia memiliki potensi pariwisata dan ekonomi kreatif yang cukup besar di hampir semua lini.Seperti : produk kerajinan, beraeka obyek wisata, kuliner, budaya, dan alam. Di sisi lain, radio merupakan media yang memiliki kemampuan untuk memahami, menggali, dan menginformasikan berbagai potensi ini di tingkat lokal, bahkan hiperlokal. Melalui inovasi bisnis radio, memungkinkan potensi lokal dan hiperlokal ini terkelola dengan baik.

RRI perlu membuat konten agregasi ekonomi kreatif lokal dan destinasi wisata daerah yang bersinergi dengan media lokal yang tahu persis keseharian tentang obyek wisata itu. Apalagi eksistensi teknologi radio mempermudah siapapun bisa menjadi podcaster. Prospek audio melalui podcast akan tetap memiliki peluang besar sama besarnya dengan videocast. Teknologi podcasting juga bisa digunakan sebagai pengganti pramuwisata yang andal.

3.4 Modernisasi Teknologi dan Bisnis Media Radio

GIM juga terkait dengan pentingnya modernisasi teknologi yang menyangkut pendengar, praktisi dan pengelola radio.Para pendengar radio, dengan modernisasi dan semakin majunya teknologi digital bisa mendengarkan musik dan radio di berbagai tempat (any where), setiap saat (any time), dan menggunakan berbagai perangkat (any device).Dengan modernisasi para praktisi radio bisa memperbaiki proses kerja, daya kreasi dan tugas jurnalistiknya menjadi semakin optimal. Sedangkan bagi pihak pengelola/manajeman radio bisa mengartikulasikan model bisnisnya sesuai dengan perkembangan jaman.

Modernisasi media radio disertai dengan kolaborasi radio-radio diseluruh pelosok negeri. Untuk mewujudkan kolaborasi radio dibutuhkan pelatihan dan deseminasi teknologi. Modernisasi media radio akan menumbuhkan sel kreatif  yang mampu berfungsi semacam “neurotransmitter” untuk mengelola konten beserta derifatifnya. Semakin banyak jumlah radio yang berkolaborasi, apalagi bisa merepresentatif wilayah Nusantara beserta budaya dan pranata sosialnya, hal ini akan menjadi stimulus perkembangan ekonomi kreatif yang luar biasa. Dengan modernisasi teknologi radio, proses kerja, dan model binis radio maka optimasi bisnis konten otomatis akan terwujud.

Demikian gagasan dan pemikiran saya terkait visi dan misi calon Dewan Pengawas RRI dalam rangka proses seleksi calon anggota Dewan Pengawas LPP RRISemuanya demi  untuk Membangkitkan Bangsa dan Kemajuan Negeri.

 

Terima kasih

Bandung,  26 Mei 2015

 

Ir. HEMAT DWI NURYANTO, DEA

Share