Investor Daily, Kamis 2 April 2015

Menteri Riset Teknologi & Pendidikan Tinggi (Ristek Dikti) Prof. Muhammad Nasir menyatakan bahwa saat ini Indonesia mengalami krisis atau defisit tenaga pengajar khususnya dosen. Jumlah dosen yang pensiun tidak sebanding dengan jumlah perekrutan dosen baru. Kondisi itu bisa berdampak buruk bagi daya saing pendidikan tinggi di negeri ini.

Defisit dosen juga menjadi kendala bagi sistem inovasi nasional. Apalagi Kementerian Riset dan Teknologi Pendidikan Tinggi (Kemristek Dikti) bertugas mendorong setiap perguruan tinggi untuk meningkatkan inovasi dan riset agar bisa berkontribusi dalam mendongkrak daya saing bangsa. Produk-produk inovasi tersebut tentunya harus bermutu dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Defisit dosen merupakan kendala serius dalam pembangunan iptek yang dilaksanakan dengan menggunakan wahana sistem inovasi nasional (SiNas). Esensi dari SiNas adalah interaksi antar aktor inovasi yaitu akademisi, pemerintah, dan pelaku usaha untuk menghasilkan produk inovasi. Interaksi disebut dengan istilah tripel helix, di mana akademisi menjadi aktor dalam pengembangan iptek, pemerintah sebagai regulator dan fasilitator, pengusaha sebagai ujung tombak inovasi dan pembangunan ekonomi nasional.

Dalam upaya penguatan sistem inovasi di Indonesia terdapat rintangan. Yakni rendahnya input inovasi, belum memuaskannya keluaran lembaga penelitian dan pengembangan serta belum dominannya peran swasta menjadi pelaku inovasi. Selain itu terdapat pula persoalan umum yang ditemui di sisi penyedia teknologi yaitu kompetensi yang relatif masih rendah, orientasi ke dalam (inward) masih menonjol, knowledge pool di daerah belum menjadi penggerak ekonomi yang signifikan. Sementara dari sisi pengguna teknologi, pelaku bisnis acapkali belum memiliki kepedulian dan belum berorientasi inovasi.

Untuk mengatasi krisis atau ketimpangan jumlah dosen diperlukan rekrutmen dosen baru dan butuh platform atau sistem pengajaran yang berbasis layanan elektronik. Hal itu bisa memudahkan para dosen untuk menangani mahasiswa dalam jumlah yang lebih banyak tanpa mengurangi mutu perkuliahan.

Kini terjadi penurunan minat untuk menjadi tenaga pengajar di perguruan tinggi. Berdasarkan data Kemenristek Dikti, jumlah dosen di Indonesia saat ini sekitar 160 ribu orang. Jumlah tersebut tidak sebanding dengan jumlah mahasiswa yang mencapai 5,4 juta orang. Dari 160.000 dosen itu, 30 persen di antaranya masih lulusan strata 1 (S-1), S-2 sebanyak 59 persen, dan S-3 hanya 11 persen. Ironisnya, selama ini tidak ada kesinambungan dalam mencukupi jumlah dosen.

Krisis dosen disertai dengan persoalan penyelengaraan perkuliahan berbiaya mahal dan kurang efektif. Untuk itu pentingnya solusi teknologi informasi. Solusi itu antara lain melalui difusi inovasi online yang dikembangkan menggunakan platform Opencourseware (OCW). Opencourseware consortium merupakan inisiatif yang menyelenggarakan berbagai perkuliahan dan kursus praktis dengan biaya murah bahkan gratis.

Pada awalnya inisiatif tersebut ditujukan untuk kalangan mahasiswa, tetapi kini mulai diterapkan untuk peserta kursus praktis dan sekolah menengah. Platform tersebut dipelopori oleh perguruan tinggi terkemuka di dunia yaitu Massachusetts Institute of Technology (MIT). Antara lain dengan memberikan secara gratis seluruh bahan kuliahnya melalui internet dalam berbagai bentuk seperti modul belajar, ujian, tugas, diktat kuliah, e-book dan multimedia termasuk online streaming serta suatu lingkungan kolaborasi. Hal tersebut pada intinya memungkinkan pengakses saling berinteraksi seperti misalnya membentuk studi group maupun berkomunikasi dengan para dosen. Platform itu disebut Opencourseware yaitu suatu aplikasi interaktif berbasis web dan open source. Di sejumlah negara Opencourseware ternyata juga telah dimanfaatkan untuk aplikasi non pendidikan, misalnya untuk pemberdayaan komunitas serta knowledge repository sejumlah aktivitas publik.

Lembaga difusi inovasi online yang berada di pelosok wilayah negeri ini bisa menggunakan Opencourseware sebagai conten management system yang berisi materi pendidikan generik gratis dan metode kolaboratif. Di negara maju aktivitas perkuliahan dan kursus online menjadi perhatian serius. Materi kuliah atau kursus secara mudah dapat diunduh. Para mahasiswa juga dapat mengambil ujian atau tes untuk melanjutkan ke tingkatan berikutnya. Tes akan dinilai secara otomatis, atau akan direview oleh beberapa siswa lain.

Karena strategisnya metode kuliah dan kursus online, sampai-sampai Presiden AS Barrack Obama setiap tahunnya menyediakan anggaran ratusan juta dollar AS. Serta membuat sistem elektronik untuk membantu proses pembelajaran dalam kursus-kursus tersebut. Penyelenggaraan kursus bersifat modular dan object based atau berbasis obyek sehingga mereka bisa interoperable dan dapat menawarkan bermacam-macam platform teknologi. Sehingga materinya bisa secara rutin diposkan dalam beberapa situs sosial media.

Lonjakan pengangguran akibat sempitnya lapangan kerja dan ketimpangan sistem pendidikan merupakan masalah serius yang dihadapi pemerintahan Jokowi-JK saat ini. Salah satu solusi untuk mengatasi masalah diatas adalah dengan jalan penyelenggaraan pendidikan nonformal bagi generasi muda. Namun, penyelenggaraan pendidikan nonformal yang ada kurang efektif dan tidak sesuai dengan kemajuan jaman sehingga kurang diminati rakyat. Lembaga pendidikan nonformal perlu transformasi agar lebih adaptif dengan semangat jaman serta lebih bernilai tambah.

Mestinya lembaga pendidikan nonformal di daerah segera ditransformasikan menjadi wahana difusi inovasi yang bersifat online dan kolaboratif. Pada prinsipnya difusi inovasi diartikan sebagai suatu proses dimana inovasi dikomunikasikan melalui saluran-saluran komunikasi tertentu, pada suatu kurun waktu tertentu, kepada anggota suatu sistem sosial. Pada saat ini proses komunikasi yang ideal adalah melalui lembaga yang bersifat online yang memiliki materi kursus yang bersifat kolaboratif dan bisa diakses dengan beragam perangkat TIK.

Program Kabinet Kerja untuk menanggulangi pengangguran sebaiknya terfokus kepada lembaga difusi inovasi online dengan obyek komoditas dan sumber daya lokal. Materi Difusi inovasi online dalam kondisi bangsa Indonesia seperti sekarang ini sebaiknya materi kursus terkait dengan industri kreatif, penyediaan pangan lokal, dan kebutuhan energi alternatif.

*) Chairman & Chief Innovation di Zamrud Technology, Alumnus UPS Toulouse Prancis.

Share