Investor Daily, Rabu 18 Febrari 2015

             Peringatan Tahun Baru Imlek 2566 ditandai dengan lambang kambing kayu. Perayaan Imlek selama ini menimbulkan dampak perekonomian dunia yang semakin berdenyut. Karena populasi etnis Tionghoa yang jumlahnya terbesar di muka bumi pada saat Imlek banyak membelanjakan uangnya dan melakukan perjalanan wisata. Apalagi jumlah kelas menengah di Tiongkok berkembang dengan pesat. Hal itu terlihat bahwa Tiongkok dalam waktu yang tidak lama lagi menjadi pasar terbesar ritel dunia menyalip Amerika Serikat.

            Pertumbuhan penjualan ritel di Tiongkok sangat fantastis dalam lima tahun terakhir. Pada 2014 penjualan ritel baik lewat online maupun offline mencapai US$ 3,78 triliun. Pertumbuhan kelas menengah dan banyaknya orang kaya baru di Tiongkok mengerek penjualan ritel. Bahkan Mc Kinsey memperkirakan pada 2022 sekitar 75 % dari penduduk Tiongkok daratan akan digolongkan sebagai kelas menengah. Kondisi diatas tentunya semakin mengokohkan sebagai pasar terbesar ritel dunia.

             Menurut kepercayaan etnis Tionghoa, tahun kambing akan mendatangkan kesejahteraan rakyat. Pada tahun kambing dibutuhkan pemimpin birokrasi dan korporasi yang bisa membuat kambing tidak sekedar mengembik tetapi bisa mengaum menghadapi tantangan. Tahun kambing membutuhkan agilitas atau keuletan bagi penyelenggara negara dan sektor usaha saat menghadapi bermacam rintangan. Sifat binatang kambing yang sangat fokus dan ulet saat merenggut sehelai demi sehelai daun bisa dijadikan ikon agilitas.

            Agilitas korporasi di Tiongkok terlihat sejak proses rekrutmen karyawan. Model rekrutmen karyawan gaya Tiongkok sangat cepat dan dinamis. Ratusan juta buruh di Tiongkok yang saat liburan Imlek kali ini sedang melakukan ritual mudik ke kampung halaman dengan memamerkan tingkat kesejahteraan yang bisa dibanggakan. Itu merupakan gambaran betapa hebatnya sistem atau tata kelola SDM di negeri tirai bambu itu. Dunia ikut kecipratan rejeki Imlek terkait dengan semakin banyaknya kelas menengah berlatar belakang karyawan korporasi berkompetensi tinggi yang berwisata keluar negeri sembari membelanjakan uangnya dalam jumlah yang cukup besar.

            Fenomena agilitas SDM dan korporasi terlihat pada penyelenggaraan bursa tenaga kerja terampil dan ahli yang antara lain event Shenzhen General Talents Market yang sangat unik. Setiap harinya bursa tersebut diikuti oleh ratusan perusahaan besar yang merekrut karyawan berbakat dan langsung dipekerjakan keesok harinya. Sistem rekrutmen dan uji kompetensi SDM di Tiongkok kini berpacu dengan kecepatan penuh.

            Diberbagai negara termasuk Indonesia, agilitas korporasi terkendala oleh kurangnya SDM terampil atau ahli utamanya di sektor industri. Disisi lain kategori penganggur yang ada sebagian besar tidak sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Disparitas akut tersebut sesuai dengan riset konsultan SDM terkemuka dunia, yakni Hays. Dalam laporannya yang bertajuk Hays Global Skills Index disebutkan terjadinya tren disparitas berupa semakin lebarnya jarak antara kebutuhan korporasi akan pekerja berkompetensi dengan pencari kerja.

            Imlek membawa spirit yang searah dengan tren bisnis dunia saat ini. Spirit tersebut diakselerasi oleh pemerintah Tiongkok yang sangat progresif mengembangkan infrastruktur. Searah dengan pembangunan infrasruktur juga dikembangkan suprastruktur berupa spiritualisme perusahaan yang dapat memberikan pencerahan visi, misi dan platform perusahaan agar terwujud sinergi yang terus menerus dalam menghadapi persaingan global. Spirit banyak terkandung dalam ajaran Konfusius yang menjadi pegangan etnis Tionghoa yang tersebar dimuka bumi ini.

            Implementasi  dari spirit tersebut kedalam domain korporasi salah satunya terdapat dalam buku yang berjudul The Corporate Mystics, karangan Gay Hendrik dan Kate Goodeman. Isinya pada prinsipnya adalah aplikasi spirit Konfusius dalam korporasi. Dari buku tersebut dapat dimaknai bahwa bisnis atau korporasi yang akan berlanjut adalah yang dilandasi etika kearifan tradisional dan dekat dengan etika.

            Tahun kambing kayu adalah tahun agilitas bagi korporasi. Yang tidak memiliki faktor agilitas akan cepat ditelan jaman. Di dunia setiap tahunnya muncul jutaan bisnis baru. Ada yang memulai dengan berkantor di rumah. Ada juga yang patungan modal dari kawan-kawan atau sanak keluarga untuk menggapai mimpi.

            Memasuki tahun kambing, pemerintah pusat dan daerah sebaiknya mencetak entrepreneur yang mengedepankan prinsip persaingan sehat. Sayangnya, belum ada data akurat yang menyangkut pionir usaha dan pasang-surut bisnis pemula di kabupaten/kota dan provinsi di negeri ini dari tahun ke tahun. Seperti halnya di Amerika Serikat, menurut US Cencus Bureau pada saat ini terdapat lebih dari 35 juta entitas bisnis di AS dan itu belum termasuk jutaan bisnis yang mengisi formulir pajak sebagai individu. Disebutkan juga bahwa setiap tahun disana terdapat lebih dari 50.000 bisnis yang gulung tikar. Penelitian juga menunjukkan bahwa empat dari lima bisnis baru disana telah gagal di lima tahu pertama. Apakah ada yang tidak beres atau sesuatu yang salah, padahal iklim berusaha, teknologi, infrastruktur, dan tata pemerintahan di sana sudah sedemikian bagus.

            Ternyata rintangan bisnis selalu lahir seiring dengan kemajuan proses bisnis itu sendiri. Dan untuk melompati rintangan bisnis itu tidak bisa hanya ditanggulangi dengan kompetensi para spesialis tetapi dibutuhkan agilitas terus menerus. Ada empat rintangan bisnis dengan skala yang berbeda, yakni rintangan kognitif, sumber daya, motivasi dan politik.

            Rintangan pertama yang mesti dilompati adalah rintangan kognitif, yakni menyadarkan kepada karyawan akan pentingnya transformasi strategis dan melepaskan diri dari belenggu status quo. Untuk itu para CEO kaliber dunia selalu menekankan realitas kompetisi yang keras. Rintangan kedua yang harus dilompati adalah rintangan sumber daya. Realitas pahit tentang kurangnya sumber daya acapkali menjatuhkan moral. Untuk melompati rintangan sumber daya diperlukan strategi horse trading. Adalah strategi yang mentransaksikan atau menukarkan kelebihan sumber daya unit dengan yang lain dalam tempo yang cepat. Rintangan ketiga adalah motivasional, yakni SDM perusahaan yang motivasinya rendah sehingga tidak mampu menjalankan kerja detail dan cenderung menempuh jalan pintas.

Idealnya perusahaan membutuhkan SDM yang mampu berperan sebagai kingpins, yakni sosok yang bisa memicu terjadinya gerakan energi positif dan memiliki kemampuan persuasif dalam membuka akses pada sumber daya. Analog dengan permainan bowling, jika kita mampu membidik kingpin ( pin utama ), maka pin yang lainnya ikut menjadi target. Rintangan keempat yang harus dilompati adalah rintangan politik. Untuk melompati rintangan politik biasanya diperlukan consigliere, yakni sosok yang mampu bernegosiasi secara cepat serta memahami berbagai jebakan struktural dan finansial.

*]  Chairman & Chief Innovation di Zamrud Technology, Alumnus UPS Toulouse Prancis.     

 

 

Share