Investor Daily, Sabtu 17 Mei 2014

            Publik berharap Pilpres 2014 menghasilkan kepemimpinan otentik yang sangat berharga bagi perjalanan bangsa. Usaha untuk merumuskan dan menghasilkan kepemimpinan otentik tidak pernah berhenti dimuka bumi ini. Bahkan sekolah bisnis terkemuka di AS, Harvard, telah melakukan ribuan studi selama 50 tahun untuk mengidentifikasi dan memahami karakteristik pemimpin, ciri kepribadian dan gaya kepemimpinan dalam konteks model kepemimpinan otentik. Menurut pakar sosial Albrecht, penulis buku Social Intelligence, definisi otentik adalah seberapa jujur dan tulus seseorang pada diri sendiri dan pada orang lain.

Kajian yang dilakukan oleh Bill George, profesor di Harvard, menyatakan bahwa kepemimpinan otentik akan diakselerasi dan berkembang oleh masing-masing calon berdasarkan pada dialektika kehidupannya sendiri.

        Kepemimpinan otentik berani menjadi dirinya sendiri. Dalam konteks keIndonesiaan pemimpin yang otentik harus bisa reinventing nilai-nilai kebangsaan yang diadaptasi dengan kemajuan jaman. Dalam Pilpres kali ini ada capres yang telah menunjukkan dirinya menggenggam kepemimpinan otentik yang bersandar jiwa kebangsaan gotong royong yang telah digali oleh pendiri NKRI. Gotong-royong menggambarkan satu usaha, satu amal, satu karya, satu gawe. Sudah lama bangsa ini dikelola oleh pemimpin otokratis yang hanya bisa memberi perintah tetapi tidak mampu memberi inspirasi dalam aspek yang luas.

            Gotong-royong dalam persepsi rakyat merupakan pembantingan tulang bersama, pemerasan otak dan keringat bersama, perjuangan bantu-membantu bersama. Esensinya sebenarnya adalah cara baik genuine Indonesia atau bisa dikatakan sebagai The Indonsian Way. Namun begitu, gotong-royong bukanlah sesuatu yang given, masih  memerlukan social engineering yang sesuai dengan zeitgeist. Istilah zeitgeist berasal dari bahasa Jerman yang secara harfiah berarti jiwa dari suatu waktu (time spirit).

            Revolusi kemerdekaan RI pada hakekatnya adalah revolusi mental yang dipandu oleh kepemimpinan otentik yang piawai membaca dan menganalisa semangat jaman untuk melakukan perubahan secara sistemik. Dalam konteks globalisasi gelombang ketiga sekarang ini tajuk zeitgeist mencuat kembali. Sampai-sampai Google memberi makna tersendiri sebagai “the general intellectual, moral, and cultural climate of an era” (intelektual, moral dan kultur umum pada suatu era). Lebih dari itu Google juga menjadikan Zeitgeist sebagai perangkat yang mampu menyimpulkan istilah apa yang populer dalam pencarian.

            Setiap periode jaman memiliki semangat atau jiwa sendiri-sendiri. Pentingnya kepemimpinan otentik yang mampu mengaktualisasikan gotong royong sesuai dengan semangat jaman sehingga menjadi The Indonesian Way yang bisa menjadi strategi pembangunan yang hebat. Realitasnya, spektrum perekonomian di negeri ini sekarang ini bisa dianalogikan bahwa berbagai sektor dan kebijakan diwarnai oleh fenomena Singa makan rumput. Yang mana Singa merupakan gambaran dari perusahaan global/multinasional yang tengah beraksi di negeri ini untuk meraup belanja negara dan belanja masyarakat hingga skala yang terkecil. Kalau Singa sudah makan rumput, lantas yang lain makan apa.

            Fenomena Singa makan rumput di negeri ini terjadi diseluruh aktivitas perekonomian bangsa dan pembangunan infrastruktur. Sebagai salah satu gambaran adalah disektor Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Di sektor tersebut fenomena Singa makan rumput sangat kentara. Singa merupakan analog dari perusahaan multinasional yang tengah beraksi di negeri ini untuk meraup belanja TIK. Bahkan berbagai bantuan hibah tentang infrastruktur juga sering disikat habis. Sangat berlainan dengan di India yang mana sang Singa “dikarantina” dalam taman safari sehingga tidak makan rumput. Di Tiongkok sang Singa juga dibatasi oleh sekat yang kuat. Ironisnya, di negeri ini sang Singa begitu leluasa melahap rumput yang sebenarnya bukan makanannya. Inovator dan  pengembang TIK di negeri ini berusaha melawan namun sering tak berdaya. Cara Singa memakan rumput sarat kolusi dan sangat sistemik melalui rekayasa skema pembiayaan proyek.

            Dampak negatif fenomena Singa pemakan rumput selama ini menyebabkan independent software vendor (ISV) di Indonesia keberadaannya menjadi inferior. Padahal jumlah pengembang profesional (profesional developer) telah mencapai sekitar 90 ribu. Sedangkan total developer dunia mencapai sekitar 14 juta. Jika pemerintah mampu menciptakan ekosistem usaha TIK yang bisa mengatasi singa makan rumput, maka pertumbuhan ISV di negeri ini bisa mencapai 1000 perusahaan pertahun. Pasar TIK dunia tetap cerah, tinggal menunggu aksi dan strategi pemerintahan baru hasil Pilpres 2014 yang diharapkan mampu mengatasi fenomena singa pemakan rumput.

            Indikator untuk menunjukkan kemampuan produksi software disuatu negara adalah jumlah ISV serta jumlah profesional yang bekerja sebagai developer. Kalau kita cermati negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura memiliki jumlah developer lebih sedikit, tapi mereka terhimpun dalam ISV yang jumlahnya cukup banyak. Artinya mereka bersinergi menuju pasar dengan lebih efektif. Berbeda dengan kondisi di Indonesia yang developernya kurang terbina akibat kebijakan elite yang membiarkan begitu saja Singa memakan rumput.  Melawan Singa tentunya tidak mudah, dibutuhkan daya inovasi dan kemampuan memproduksi software dalam aspek kuantitas maupun kualitas. Seperti menguasai standar metodologi pengembangan, jeli melihat kebutuhan pasar, mengkondisikan produk agar bankable, dan usaha proteksi terhadap hak kekayaan intelektual. Masalah lain dari software house Indonesia adalah tentang standardisasi dan metodologi. Jika diaudit dari seluruh proses Software Development Life Cycle (SDLC) masih banyak yang bermasalah.

            Pada saat ini ada Capres yang telah berhasil melawan Singa melalui inisiatif dan kegiatan inovasi yang berskala global. Sepeeti diperlihatkan oleh Capres Jokowi yang terbukti berhasil mencegah Singa makan rumput untuk beberapa sektor. Hal itulah yang membuat Jokowi pernah bersitegang dengan mantan Gubernur Jateng Bibit Waluyo terkait pembangunan mall. Konsepsi Jokowi diatas juga terlihat dengan adanya Solo Techno Park yang merupakan model ideal pengembangan inovasi daerah.

            Jokowi membangun kota Solo bukan saja pada aspek fisik, tetapi juga aspek mental sumber daya birokrasinya. Tekanan aspek mental itu mengedepankan daya inovasi sebagai panglima menghadapi sengitnya persaingan global. Daya inovasi dan kepemimpinan yang bisa menginspirasi tersebut menghasilkan sederet ikon perekonomian gotong royong yang unggul di kancah global, seperti Solo City Walk yang bisa mendongkrak wisatawan setara dengan Orchard di Singapura. Begitu pula dengan revitalisasi kawasan Ngarsopuro menjadi pasar barang antik yang kini menjadi tempat favorit bagi wisatawan. Selain Itu Jokowi juga telah mencipakan acara-acara budaya yang bertaraf internasional seperti Solo Batik Carnival, Solo International Ethnic Music (SIEM) Festival, Solo International Art Performance (SIPA), dan Indonesian Channel yang merupakan pagelaran kebudayaan Indonesia oleh para pelajar dari mancanegara yang menekuni kebudayaan Indonesia di Solo.

 

            Rakyat menunggu pemimpin otentik yang bisa merumuskan The Indonesian Way yang berjiwa gotong royong. Kepemimpinan yang memberikan apresiasi kepada orang-orang kecil yang selama ini telah membesarkan Indonesia.   Budaya kosmopolitan yang menerpa bangsa ini tidak cukup hanya dihadapi oleh portofolio kementerian saja. Tetapi akan lebih tepat kalau dihadapi lewat mega proyek national character building minus nasionalisme sempit. Kini budaya kosmopolitian telah menyebabkan produk, daya saing dan segala aspek bangsa ini teralienasi dikampung halamannya sendiri.

 

*]  Chairman & Chief Innovation di Zamrud Technology, Alumnus UPS Toulouse Prancis.

Share