Banyak kalangan menyatakan bahwa Tahun Kuda adalah masa yang penuh dengan konfrontasi hingga peperangan sengit. Oleh sebab itu dibutuhkan stamina, kecepatan, dan kepahlawanan seperti layaknya sifat yang melekat pada binatang kuda. Dalam konteks tersebut, para elite politik dan korporasi sebaiknya mengambil sifat unggul alamiah yang dimiliki kuda. Kekuatan dan kecepatan sang kuda juga patut dicontoh oleh pejabat pemerintah dalam menemukan solusi persoalan kebangsaan serta kuat dalam menyepak terjang berbagai modus korupsi.

Pada era saat ini dunia mulai dilanda peperangan untuk memperebutkan bakat. Korporasi semakin mengandalkan pengetahuan dan memanajemen hasil inovasi dengan baik. Implikasi dari peperangan memperebutkan bakat adalah semakin pentingnya rekruitmen staf korporasi yang memiliki kekuatan untuk mengakselerasi misi korporasi dengan baik.            

Sayangnya, peperangan itu di beberapa belahan dunia justru berlangsung tidak simetris. Karena terkendala oleh disparitas atau ketimpangan jumlah orang-orang berbakat atau berkompetensi tinggi. Masalah inilah yang kini menjadi persoalan pelik yang dihadapi oleh berbagai Kementerian di Amerika Serikat. Itulah sebabnya pemerintah Amerika Serikat sangat agresif membenahi manajemen bakat untuk generasi baru dengan tajuk Bakat 2.0.

Jika kita simak dengan seksama, kini berlangsung peperangan sengit antara perusahaan multinasional, utamanya yang bermarkas di Silicon Valley. Mereka tengah memperebutkan bakat-bakat di bidang pengembang aplikasi dan tenaga ahli perangkat lunak. Tak pelak lagi, rebutan bakat itu terkait dengan kelangsungan hidup korporasi dan penggerak inovasi yang pada gilirannya untuk meningkatkan penjualan dan produktivitas. Pertempuran sengit untuk memperebutkan SDM berbakat semakin sering terjadi antara korporasi raksasa seperti Google, Yahoo, Facebook. Rebutan itu dikenal dengan istilah acqui-hire, itu akibat terbatasnya SDM berbakat di lingkungan industri high-tech terbesar di muka bumi.

Salah satu implikasi pembenahan manajemen bakat adalah transformasi model pengembangan karyawan. Yang dulu diwarnai dengan aktivitas recruit, train, supervise, dan retrain, kini ditransformasikan menjadi initiate, engage, collaborate, dan evolve ( menjalin, berkolaborasi, melibatkan dan mengembangkan ). Aktivitas tersebut disertai dengan injeksi nilai-nilai korporasi seperti sikap percaya diri untuk berpikir besar dan menumbuhkan integritas diri serta team work yang kokoh. Semakin dibutuhkan SDM dan pengelola korporasi yang mampu berpikir besar, bertindak progresif tetapi rendah hati. Yang pada gilirannya akan melahirkan human spirit yang merupakan esensi dari maketing 3.0. Tak bisa dimungkiri lagi, kini korporasi tidak cukup hanya dengan product oriented dan customer oriented, harus mampu menggelar karpet merah terkait value level yang lebih tinggi lagi, yakni human spirit.

Transformasi juga diakselerasi oleh Telepresensi, yakni teknologi yang memungkinkan semua kegiatan berjalan serempak. Telepresensi sudah merambah berbagai bidang pengembangan SDM, termasuk pengembangan personel militer di negara maju.

Ada relevansi antara Bakat 2.0 di Amerika Serikat dengan tata kelola SDM ala Tiongkok yang dilandasi dengan spirit dan nilai-nilai tradisi. Spirit tersebut terkait dengan ajaran Confucius atau Kongfuci. Spirit dan etos kerja SDM di Tiongkok itu dilandasi etika dan nilai-nilai Konfusian. Nilai-nlai dan etika Konfusian kini telah menjadi prinsip dasar konglomerasi yang sangat ampuh untuk senjata persaingan di era globalisasi.

Ada yang sangat menarik terkait dengan rekrutmen karyawan gaya Tiongkok yang benar-benar cepat dan sangat dinamis. Ratusan juta buruh di Tiongkok yang saat liburan Imlek melakukan ritual mudik ke kampung halaman dengan memamerkan tingkat kesejahteraan yang bisa dibanggakan, merupakan gambaran betapa hebatnya sistem atau tata kelola SDM di negeri Tiongkok. Dan duniapun dari tahun ketahun selalu kecipratan rejeki Imlek terkait dengan semakin banyaknya kelas menengah berlatar belakang karyawan korporasi berkompetensi tinggi yang berwisata keluar negeri sembari membelanjakan uangnya dalam jumlah yang cukup besar.

Fenomena sengitnya perang memperebutkan bakat bagi korporasi di Tiongkok juga terjadi. Itu terlihat pada penyelenggaraan bursa tenaga kerja ahli yang antara lain event Shenzhen General Talents Market yang sangat unik. Setiap harinya bursa tersebut diikuti oleh ratusan perusahaan besar yang merekrut karyawan berbakat dan langsung dipekerjakan keesok harinya. Sistem Bakat 2.0 di Tiongkok kini sangat sesuai dengan perekonomian yang berpacu dengan kecepatan penuh.

Di banyak negara termasuk Indonesia, perang memperebutkan bakat terkendala oleh disparitas mutu tenaga kerja. Ada disparitas pasar tenaga kerja yang sangat serius. Disparitas tersebut kurangnya tenaga kerja berbakat atau ahli, utamanya di sektor industri. Disisi lain kategori penganggur yang ada sebagian besar tidak sesuai dengan kebutuhan perusahaan.

Disparitas akut tersebut sesuai dengan riset konsultan SDM terkemuka dunia, yakni Hays. Dalam laporan tahunannya yang bertajuk Hays Global Skills Index disebutkan terjadinya tren disparitas berupa semakin lebarnya jarak antara kebutuhan perusahaan akan pekerja berkompetensi dengan pencari kerja. Hasil riset Hays diatas sebaiknya dijadikan cambuk motivasi bagi negeri ini yang hingga kini belum memiliki sistem nasional yang baik terkait pengembangan bakat dan kompetensi bagi warga negaranya.

Pada Tahun Kuda ini, saatnya mengelola inovasi lebih baik lagi. Indonesia perlu antisipasi sekuat tenaga terkait peperangan untuk memperebutkan bakat serta membenahi manajemen inovasi di segala lini. Antara lain inovasi nilai, yang menjadikan korporasi mampu melakukan lompatan jauh ke depan atau quantum leap dalam nilai pelanggan atau pembeli. Serta secara simultan bisa melakukan reduksi biaya secara dramatik atau sharp drop dalam struktur biaya industri.

Betapa pentingnya manajemen inovasi pada saat ini. Manajemen inovasi pada prinsipnya adalah disiplin yang berkaitan dengan pengelolaan inovasi dalam proses produk dan pelayanan, organisasi, hingga pelanggan dan pasar. Manajemen inovasi memungkinkan semua SDM dalam organisasi untuk bekerja sama dengan pemahaman yang sama tentang proses-proses dan sasaran-sasaran strategik korporasi. Fokus manajemen inovasi adalah memungkinkan organisasi untuk merespon berbagai peluang dan menggunakan upaya kreatif untuk memperkenalkan ide-ide, proses, atau produk serta pelayanan baru. Manajemen inovasi juga melibatkan karyawan dalam memberikan kontribusi kreatif untuk proses, produk, dan organisasi. Dengan adanya manajemen inovasi yang tepat, bisa memicu dan mengembangkan ide-ide kreatif dari karyawan untuk meningkatkan kinerja korporasi secara terus-menerus.

Sudah saatnya pemerintah, organisasi pekerja dan pelaku usaha melepaskan diri dari belenggu atau dilematika ketenagakerjaan yang selalu memunculkan gejolak sepanjang tahun. Hal itu demi untuk menggenjot pertumbuhan ekspor nasional, khususnya ekspor industri manufaktur dan industri kreatif. Bagi Indonesia, kini tidak relevan lagi mengandalkan sumber daya alam dan SDM yang kurang berkompetensi. Indonesia perlu mengembangkan keunggulan komparatif yang dinamis, yakni sumber daya manusia (SDM) yang berbakat dan memiliki daya produktifitas setangguh kuda. Pengembangan diatas perlu disertai dengan penerapan program yang bisa memperluas lapangan kerja berbasis inovasi disegala bidang.      

 *]  Chairman & Chief Innovation di Zamrud Technology, Alumnus UPS Toulouse Prancis. 

Share