Pikiran Rakyat, Senin 2 April 2012

Perkembangan teknologi radio seperti sistem podcast generasi kelima dan Sistem radio Pandora telah mencapai tahap maturasi. Dilain sisi, jagat radio siaran di negeri ini masih dilanda dikotomi tentang sistem radio digital dan internet dengan radio konvensional.Dikotomi seperti diatas menjadi kontraproduktif. Mestinya segenap praktisi radio segera melakukan reinventing mencapai tingkatan intelligence radioJumlah radio siaran di Indonesia yang memiliki ijin sekitar 1800 buah. Diantara jumlah itu yang profitable hanya kurang dari 25 persen.  Mayoritas dalam kondisi biaya operasional sangat dominan dan produktivitasnya rendah. 

Dari aspek teknologi belum online dan belum siap melakukan transformasi menjadi new media yang berbasis teknologi IP dan terintegrasi dengan social mediaTingkat intelligence yang paling natural adalah menciptakan sistem kolaborasi radio sehingga terbentuk agregasi konten yang terkategori secara sistematik sehingga menjadi produk kreatif yang bernilai tambah. Sistem kolaborasi radio yang ideal adalah terbentuknya sel-sel kreatif radio siaran sehingga mampu memproduksi konten yang bermutu dan dibutuhkan oleh masyarakat luas.

Kemunculan Pandora mengundang pertanyaan yang esensial. Publik mempertanyakan definisi Pandora. Apakah radio online, streaming radio, internet radio, atau layanan streaming musik. Pertanyaan itu mencuat karena Pandora memang berbeda dengan layanan streaming audio lain di internet. Pandora menjadi luar biasa karena bisa membaca selera lagu kita. Eksistensi Pandora menggunakan sistem analisis bernama Music Genome Project. Dengan sistem tersebut memungkinkan pengguna menciptakan siaran radio sendiri yang melantunkan lagu-lagu yang sebelumnya dipilih oleh pengguna. Sistem analisis diatas sebetulnya bisa diwujudkan oleh kolaborasi radio siaran di negeri ini dengan spektrum yang lebih luas. Tidak hanya kategori lagu tetapi juga untuk kategori kehidupan yang lain, seperti keragaman budaya, destinasi wisata, dan potensi lokal lain yang membutuhkan promosi yang sistemik. Sehingga akan terwujud sistem analisis semacam Culture Genome Project, Travel Distination Project, dan lain-lain dalam Radio Collaboration 2.0 yang memiliki konten terkategori sesuai dengan best practice dan standardisasi konten.

Kekuatan kolaborasi radio siaran telah dikemukakan oleh beberapa pakar dunia. Seperti disampaikan Valerie Geller, Presiden Geller Media International. Dia adalah konsultan internasional untuk radio siaran yang pernah menangani sekitar 500 stasiun radio yang tersebar di 29 negara. Lewat bukunya yang berjudul “Creating Powerfull Radio”, Geller menawarkan visi praktis bagi stasiun radio dengan cara konsolidasi, restrukturisasi, kolaborasi dan transformasi teknologi. Untuk mewujudkan Radio Collaboration 2.0 tidaklah semudah membalikan tangan. Dibutuhkan usaha yang ekstra dengan cara pelatihan dan deseminasi teknologi @Radio yang ditujukan kepada entitas radio siaran di seluruh pelosok negeri ini. Sehingga terbentuk sel kreatif  yang didukung teknologi hasil inventor anak negeri yang mampu berfungsi semacam “neurotransmitter” untuk mengelola konten radio beserta derifatifnya. Semakin banyak jumlah radio siaran yang bergabung, apalagi bisa merepresentatif wilayah nusantara beserta budaya dan pranata sosialnya, maka eksistensi radio collaboration menjadi luar biasa. Karena akan terjadi aliran konten segar dan bermutu yang sangat deras.

Ekosistem sel kreatif radio siaran di negeri ini mulai terbangun lewat pelatihan nasional @Radio yang menggunakan infrastrukturBandung Digital Valley (BDV) di kawasan R&D Center PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TELKOM). Kegiatan pelatihan itu cocok dengan misi BDV yang  mendukung percepatan penetrasi ekosistem ICT di Indonesia. Selain itu BDV juga merupakan wahana antara para teknopreneur atau pengembang aplikasi dengan pasar atau industri sebagai penyerap atau pengguna aplikasi tersebut. BDV juga memiliki misi untuk mendorong dan mempercepat swasembada ICT khususnya aplikasi dan konten sehingga diharapkan ke depan seluruh kebutuhan aplikasi dan konten mayoritas akan terpenuhi oleh pengembang dalam negeri.

Radio siaran sangat berkepentingan dengan standardisasi konten pada website radionya serta dapat mengalir ke website kolaborasi secara baik. Aktualisasi, originalitas dan daya kreatifitas konten pada website radio bisa ditingkatkan melalui pelatihan. Survei menyatakan bahwa kebanyakan pengunjung website ingin menikmati konten yang ditawarkan dengan cara tertentu. Biasanya mereka ingin melihat/menikmati dengan cara yang paling cepat/praktis. Kebanyakan pengunjung menginginkan konten yang bersifat praktis tetapi mudah dipahami untuk mengerti konsep-konsep yang kita tawarkan dalam konten. Itulah sebabnya pentingnya gaya jurnalistis radio yang bisa menyederhanakan informasi utama dalam konten. Kesalahan penting yang sering terjadi ketika membuat konten untuk website adalah kegagalan dalam membuat kalimat yang mudah dipahami orang lain.

Jurnalisme radio sebaiknya melakukan repositioning kearah social web. Hal itu sejalan dengan premis Geller yang menyatakan bahwa situasi pendengar akan kembali kepada hakekatnya, makna pendengar bukan terletak kepada perangkat yang menyampaikan.Tetapi kontenlah yang paling penting.  Bahkan dalam risetnya, Geller menunjukkan bahwa radio dimasa mendatang akan kembali menempati posisi strategisnya. Hal itu terlihat dari rekomendasi US FEMA ( Federal Emergency Management Services) yang menyatakan bahwa konten radio siaran merupakan salah satu elemen penting untuk menghadapi kondisi darurat. Begitu pula pemerintah Jepang menyatakan pentingnya mengoptimalkan konten radio untuk mengatasi bencana.

 Ekosistem global untuk industri radio siaran mulai mengarah kepada optimasi bisnis konten. Untuk itu diperlukan restrukturisasi pengelola industri radio siaran yang merubah peran General Manager, Program Director, News Director, On-Air Personalities. Untuk itulah job description and establishment grade system SDM industri radio siaran perlu diperbaharui sehingga bisa terbentuk sel-sel kreatif yang produktif sehingga mampu membangkitkan kembali eksistensi radio siaran  (*)

 

Chairman Zamrud Technology, Alumnus UPS Toulouse Prancis 

Share