Visi & Misi Terbuka Dari Peserta Seleksi Calon Anggota Direksi Radio Republik Indonesia

Slogan RRI ”Sekali di Udara, Tetap di Udara!”, harus disertai dengan visi dan misi yang andal dan piawai berselancar dalam pusaran konvergensi TIK serta inovatif dan kolaboratif dengan media baru.

PERAN sejarah RRI di negeri ini sudah terbukti sebagai wahana yang strategis dalam peristiwa penting hingga kondisi krisis. Salah satunya adalah prestasi emas penyebarluasan naskah Proklamasi Kemerdekaan RI ke seluruh penjuru dunia dalam waktu yang cepat. Sebagai Lembaga Penyiaran Publik (LPP) RRI dikelola dan dikembangkan dengan mengacu pada UU Nomor 32/2002 dan PP.Nomor 12/2005 sebagai lembaga yang independent dan non komersial. Tugas LPP RRI adalah memberikan pelayanan informasi, pendidikan, hiburan, kontrol dan perekat sosial dan pelestari budaya bangsa melalui siaran yang menjangkau seluruh lapisan masyarakat di wilayah NKRI.

Tugas itu harus diakselerasi dengan inovasi teknologi terkini. Untuk menghadapi persaingan yang semakin sengit, maka proses bisnis dan portofolio RRI mesti adaptif dengan konvergensi TIK. Sehingga bisa menjadi katalisator dan konektor yang andal di dalam ruang publik.

Diperlukan model transformasional RRI untuk menjadi lembaga yang lebih kompetitif sesuai dengan semangat jaman. Model tersebut merupakan Strategic Alignment Model, yakni model perubahan transformasional organisasi dalam dua arah. Perubahan arah yang pertama adalah perubahan yang dilakukan melalui implementasi teknologi yang dapat membawa dampak pada efisiensi dan biaya. Sedangkan perubahan arah kedua adalah perubahan yang dilakukan dalam rangka perbaikan konten dan inovasi pelayanan.

1. Model Transformasi RRI

Model transformasional RRI akan lebih ideal jika memanfaatkan produk dan teknologi hasil Research & Development oleh putra-putri Indonesia sendiri. Apalagi keberpihakan produk dalam negeri sekarang ini menjadi perhatian penting dari Kabinet Indonesia Bersatu yang dipimpin oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam rangka membangkitkan industri dalam negri serta kemandirian nasional. Selain itu pentingnya beberapa effort dan inovasi teknologi untuk mencegah inefisiensi ditubuh RRI. Yakni, Pertama, dengan implementasi e-Business yang dimulai dari e-Procurement & e-Auction sampai dengan ERP (Enterprise Ressources Planning) & CRM (Customer Relationship Management). Kedua, Implementasi sistem online untuk monitor kondisi peralatan siaran, inventori, jadwal & aktifitas perawatan, monitoring biaya perawatan. Apabila biaya perawatan peralatan dengan teknologi lama terlalu mahal maka dibuka peluang untuk mengganti dengan peralatan dengan teknologi baru. Ketiga, komputerisasi sistem siaran secara end-to-end (Radio Broadcasting Integrated System berbasis Sistem Radio 2.0) dengan memanfatkan kandungan lokal dan dukungan riset dari lembaga-lembaga di tanah air. Sistem ini akan membantu proses penyusunan program dan berita hingga on-air, pertukaran dan pengiriman konten antar stasiun cabang dengan stasiun bergerak, sehingga semuanya dapat berjalan secara efektif dan efisien. Proses peliputan juga didukung dengan‚ memanfaatkan teknologi dan sumberdaya yang efisien, dimana hasil peliputan dapat dikirim via infrastruktur publik yang murah dan pemrosesan yang singkat hingga hasil peliputan siap untuk disiarkan. Keempat, implementasi infrastruktur siaran publik berbasis konvergensi teknologi (IP Based Technology) baik berbasis Wireline (Cable, Fiber Optic) atau Wireless (Satellite, Jaringan GSM/CDMA) baik milik National Flag Carrier (Telkom atau Telkomsel) ataupun milik sendiri. Pemanfaatan dan implementasi DVB-IP VSAT System sebagai tulang-punggung teknologi infrastruktur siaran milik sendiri, relatif tepat untuk dapat menjangkau seluruh wilayah NKRI yang begitu luas dan kompleks juga dapat dipertimbangkan. Sistem yang berbasis konvergensi ini berpengaruh terhadap transformasi secara serentak dalam dua arah yaitu efisiensi dan mendukung inovasi konten dan layanan. Apalagi dalam konteks mengatasi blank spot siaran dapat menekan biaya yang signifikan. Penerapan secara bertahap dan terencana teknologi siaran digital seperti DAB/DVB (Digital Audio Broadcasting/Digital VideoBroadcasting) dan Radio 2.0 telah menjadi trend kedepan yang tidak mungkin dihindari. Kelima, Implementasi teknologi yang bisa mewujudkan terbentuknya National News & Information Network. Pembangunan jaringan informasi lembaga penyiaran publik nasional dan daerah yang terintegrasi akan mendorong perubahan paradigma penyediaan informasi dan konten nasional dan daerah yang pada gilirannya dapat mendorong spirit persatuan dan kesatuan bangsa serta memfasilitasi perkembangan budaya dan industri kreatif. Keenam, Penyediaan layanan Public to Public Broadcasting berupa penyediaan infrastruktur siaran inter dan antar daerah bagi LPP Daerah (TV dan Radio Publik Daerah) yang berbasis IP Based System. Sehingga LPP Daerah memiliki jangkauan siaran yang menasional namun dapat dilaksanakan dengan biaya yang murah. Ketujuh, Penyediaan fasilitas penyebaran informasi dan siaran murah yang bermanfaat bagi masyarakat luas (On demand Broadcasting & Distance Learning), misalnya untuk siaran pendidikan, pelatihan IPTEK jarak jauh, apresiasi seni dan budaya, serta mengelola indigenous lokal secara lebih baik.

Radio siaran memerlukan proses transformasi agar eksistensinya tidak tenggelam ditelan zaman. Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 21 Tahun 2009 tentang standar penyiaran digital untuk penyiaran radio mempercepat proses transformasi itu. Pada dasarnya peraturan menteri tentang Digital Audio Broadcasting itu membawa implikasi terhadap optimalisasi penggunaan frekuensi dan akan mengubah tatanan bisnis radio berbasis internet. Agar proses transformasi berhasil, dibutuhkan kolaborasi antar- radio siaran. Secara umum radio siaran di negeri ini telah diimpit biaya operasional, produktivitasnya masih rendah, kurang inovatif, dan belum siap menerapkan media baru berbasis Web 2.0. Di sisi lain, menurut lembaga riset nasional Sharing Vision, pertumbuhan pemakai internet di negeri ini cukup pesat hingga diperkirakan mencapai lebih dari 70 juta orang pada tahun 2014. Pemakai mobile phone yang mengarah ke Smartphone, juga tumbuh pesat mengikuti tren dunia hingga diperkirakan mencapai 206 juta di tahun 2014. Perkembangan konvergensi teknologi informasi dan komunikasi akan memaksa sistem radio konvensional melakukan perkawinan dengan internet. Masa depan radio siaran akan diwarnai dengan optimalisasi penggunaan frekuensi karena sistem penyiaran radio digital dari segi efisiensi bisa lebih unggul. Sistem radio digital menggunakan infrastruktur bersama, yang akan menjadi solusi terhadap sejumlah masalah pada sistem radio analog saat ini.

2. Repositioning Jurnalisme Radio

Jurnalisme radio utamanya di RRI semestinya melakukan repositioning kearah social web. Pola mengkonsumsi media juga mengalami perubahan yang cukup signifikan. Masyarakat saat ini memiliki pilihan media yang sangat banyak. Content menjadi “on-demand”. Hal itu sejalan dengan premis Valerie Geller yang menyatakan bahwa situasi pendengar akan kembali kepada hakekatnya, makna pendengar bukan terletak kepada perangkat yang menyampaikan. Tetapi kontenlah yang paling penting. Bahkan dalam risetnya, Geller menunjukkan bahwa radio dimasa mendatang akan kembali menempati posisi strategisnya. Transformasi RRI yang bersinergi dengan new media yang berbasis teknologi IP dan DAB/DVB harus sejalan dengan langkah kebijakan USO pemerintah yang mencanangkan internet masuk desa mulai 2010. Portofolio RRI bisa terkubur jaman jika tidak melakukan transformasi dan inovasi yang menyangkut broadcasting operation and management, perbaikan ekosistem dan model bisnis. Transformasi itu mudah dilakukan jika melakukan kolaborasi untuk membentuk life style baru. Apalagi jika sifat kolaborasi menuju kearah low budget namun high impact dalam proses bisnis radio siaran. Ekosistem global untuk industri radio siaran mulai mengarah kepada optimasi bisnis konten. Dalam kenyataan yang baru, postur dan job establishment and grade system dari SDM RRI dituntut berubah sesuai dengan semangat jaman. Job SDM radio seperti Program Director, News Director, On-Air Personalities, semuanya telah berubah dan membutuhkan kompetensi kearah TIK. Untuk itulah deskripsi kerja di lingkungan RRI perlu diperbarui. Sehingga organisasi RRI seolah berada di tengah-tengah entitas yang terlahir kembali.

Fakta menyatakan bahwa teknologi Web 2.0 telah memperluas spektrum profesi jurnalisme Radio. Pada prinsipnya Jurnalisme radio (broadcast journalism) adalah proses produksi berita dan penyebarluasannya melalui media radio siaran. Sifatnya adalah bercerita (storytelling), yakni menceritakan atau menuturkan sebuah peristiwa atau masalah dengan gaya percakapan (conversational). Spektrum profesi itu akan ideal jika difasilitasi oleh infrastruktur Radio Broadcasting Integrated System. Dengan arsitektur yang merupakan kumpulan aplikasi untuk mendukung operasional stasiun radio, mulai dari modul program director, production director, traffic management, on-air, interactive messaging, logger, hingga audio streaming. Infrastruktur itu memiliki kemampuan penyediaan informasi berbasiskan internet. Semua aplikasi diatas sangat membantu elemen-elemen pemberitaan dan meningkatkan efektifitas dalam mengelola radio. Sehingga menghilangkan kesenjangan antara stasiun radio. Baik radio siaran yang berdomisili di kota besar maupun di pelosok pedesaan memiliki peluang yang sama dalam mengembangkan elemen pemberitaan. Dalam jurnalisme radio dikenal elemen-elemen pemberitaan yang antara lain : Pertama, News Gathering yakni pengumpulan bahan berita atau peliputan dan Teknik reportase yakni wawancara, studi literatur, pengamatan langsung. Kedua, News Production yakni penyusunan naskah, penentuan “kutipan wawancara” (sound bite), backsound, efek suara dan lain-lain. Ketiga, News Presentation yakni penyajian berita. Keempat, News Order yakni urutan berita. Dengan inovasi dan teknologi Radio 2.0 semua elemen pemberitaan itu bisa dilakukan lebih efektif.

Teknolgi Radio 2.0 mempermudah siapapun bisa menjadi podcaster. Salah satu tren yang sekarang muncul mengenai podcast adalah sebagai alat pendidikan, kebudayaan, dan alat pelatihan. Dalam e-learning, podcast bisa merupakan media efektif bagi mereka yang tidak bisa mengikuti pelajaran. Dalam pelatihan, paket podcasting bisa juga membantu menjelaskan beberapa hal penting dalam menjelaskan sesuatu. Di beberapa tempat malah podcast sekarang dijadikan untuk marketing dan iklan. Juga sebagai media dakwah. Bahkan ada pula yang menggunakan sebagai podcast cerpen hingga podcast buku. Radio siaran seperti BBC News juga sudah menggunakan podcast sebagai pilihan bagi para pembaca dan pendengarnya untuk mencari informasi atau hiburan yang cocok. Program BBC Learning Schools selama ini telah dinikmati oleh warga dunia dengan misi mempromosikan pembelajaran anak usia sekolah, mendukung kebutuhan guru serta menawarkan kesempatan untuk belajar melalui partisipasi aktif. Belajar yang menyenangkan bukanlah sekedar gagasan. Tetapi harus dihidupi melalui kegiatan belajar sehari-hari yang dialami anak-anak yang betul-betul menyenangkan. Salah satu situs tempat belajar matematika online yang menyenangkan adalah milik BBC Bitesize. Sebagai contoh BBC Numeracy. Di dalam bagian ini, ada kegiatan belajar penambahan, pengurangan, perkalian, pembagian, urutan angka, uang, panjang, waktu, dan lainnya. BBC sangat serius dalam mempromosikan pendidikan dan pembelajaran. Dengan menawarkan portofolio sumber daya dan kegiatan untuk anak-anak, guru dan orang tua.

Podcast sekarang sudah terintegrasi dalam radio di mana siaran. radio sebagian disimpan dalam bentuk podcast untuk download. Jadi podcast dan radio dimasa mendatang akan saling mengisi. Prospek audio melalui podcast akan tetap memiliki peluang besar sama besarnya dengan videocast. Teknologi podcasting juga bisa digunakan sebagai pengganti pramuwisata. Apalagi sekarang ini negeri ini sedang kekurangan pramuwisata dengan klasifikasi khusus ( menguasa beberapa bahasa dan kebudayaan ). Inilah peluang bagus bagi SDM RRI untuk berperan sebagai podcaster obyek wisata. Selain itu SDM RRI juga memiliki peluang untuk menjadi host podcast yang mengkreasi buku-buku menjadi Audio Files Yang penting bentuknya audio file dan bisa didownload serta disimpan untuk didengarkan di mp3 player kapan saja. File audio bisa jadi akan lebih menarik jika dibandingkan dengan kalau kita membaca buku secara langsung.

Selain transformasi teknologi, juga diperlukan transformasi konten yang akan merubah persepsi publik bahwa RRI hingga saat ini masih menjadi corong pemerintah. Inovasi teknologi siaran RRI akan menstimulus berkembangnya beragam jenis program siarannya. Sehingga mampu memenuhi kebutuhan publik dan memahami karakter pendengarnya. RRI sebaiknya juga memperhitungkan pertumbuhan budaya prosumer. Dalam konteks itu individu (publik) akan menjelma menjadi produsen, sekaligus konsumen dalam konteks informasi. Sifat kolaboratif dalam jejaring sosial harus bisa sinergis dengan seluruh portofolio yang dimiliki oleh RRI. Tak bisa dimungkiri lagi, budaya prosumer bisa menjungkirbalikan eksistensi jurnalisme radio. Sebaliknya juga bisa menjadi kekuatan baru. Karena seseorang yang sudah menjadi prosumer, oleh Thomas Friedman dalam the World is Flat digolongkan menjadi super empowered individu (SEI). Prosumer secara tidak langsung juga mendorong kreativitas tanpa batas. Bentuk-bentuk budaya prosumer dalam radio siaran diakselerasi secara luar biasa oleh inovasi radio digital dan internet. Kemudahan akses dan tingkat porteraktivitas tinggi telah mendorong seseorang untuk menciptakan, mengelola, dan menyebarkan informasi melalui perangkat-perangkat personal, seperti SMS, MMS, blog, internet. Dalam kondisi tersebut, individu mengalami mediamorfosa. Dalam arti menjadi reporter, sekaligus menjadi media. Fenomena inilah yang mesti ditangkap dan difasilitasi oleh RRI jika esensinya sebagai penyiaran publik ingin terwujud secara optimal.

3. Menghadapi Sistem Radio Digital

Visi dan Misi Direksi RRI kedepan sebaiknya dilandasi dengan kesadaran bahwa mengelola radio siaran itu model bisnisnya tidak harus dari hulu sampai hilir. Jika pada era radio analog, radio broadcaster harus mengurus semuanya. Dalam hal itu Broadcaster berpola Content-Transmitter-StasiunRelay. Sekarang ini era koeksistensi dan konvergensi yang berkaitan dengan transmisi akan bergeser dan sebaiknya diserahkan kepada pihak lain yang lebih berkompeten (network operator). Dengan demikian RRI fokus saja sebagai content provider dan lebih banyak berkreasi dan berinovasi dari sisi konten atau materi siaran. Direksi RRI dalam waktu singkat harus mampu menuntaskan proses mediamorfosis dengan cara memfasilitasi transformasi teknologi dan konten serta membantu adopsi berbagai macam aplikasi lifestyle dan aplikasi jejaring sosial kedalam portofolionya.

Di negeri ini RRI merupakan radio yang mempunyai jaringan siaran terbesar yaitu 60 stasiun dengan 191 programa dan berdasarkan penelitian yang diselenggarakan Universitas Indonesia pada tahun 2003 RRI menjangkau 83% penduduk Indonesia. Pesatnya kemajuan TIK menuntut RRI untuk segera menemukan kesadaran profesionalnya, sehingga bisa dikelola lebih scientific. Kesadaran tersebut hendaknya jangan pudar karena dihadang oleh mahalnya perangkat impor. Rintangan tersebut bisa dilompati dengan inovasi teknologi untuk mengakselerasi dan revitalisasi portofolio RRI yang berupa 3 program yaitu Programa Daerah yang melayani sampai pedesaan, Programa Kota (Pro II) utk masyarakat perkotaan, dan Programa III (Pro III) yang menyajikan Berita dan Informasi (News Channel) kepada masyarakat luas.

RRI harus siap menghadapi sistem radio digital dan internet stasiun radio itu berkolaborasi alias bergotong-royong. Sehingga sistem radio digital dan internet tidak menjadi kendala. Pada prinsipnya sistem diatas terdiri dari Radio 2.0 (Mobile Radio Program, Podcast, IP based Audio Streaming dan Pandora) dan DAB. Kita harus sadar bahwa semua sistem radio diatas akan menemukan bentuk maturitasnya. Apalagi infrastruktur internet broadband di negeri ini semakin baik dengan adanya proyek Palapa Ring dan program internet masuk desa berbasis FWB (Fixed Wireless Broadband) via USO (Universal Service Obligation) dari Network Operator. Dengan kondisi infrastruktur TIK sekarang ini, tentu saja sistem diatas akan semakin baik dan ekosistemnya semakin kondusif karena distimulir oleh social web seperti Facebook, Twitter, dan lain-lain. Sedangkan sistem yang relatif tidak mengalami kendala berarti adalah sistem Podcast. Sistem tersebut sangat sederhana, murah dan platform terbuka. Sistem Podcast dengan spirit Web 2.0 yang berbasis RSS dapat di akses dengan berbagai macam metode seperti di komputer dengan iTunes, Podcast Alley, RSS reader dan lain-lain. Di iPod dengan iTunes. Di HP dengan Nokia Podcast, hingga Blackberry juga banyak program untuk mengoperasikan podcast ini. Seperti halnya sistem podcast, jenis yang kelima yakni IP based Audio Streaming berbasis Web 2.0 sangat ideal untuk kolaborasi.

4. Tatakelola Indigenous dan Potensi Kolaboratif LPP Lokal

RRI semakin menjadi partner yang strategis dalam proses kreatif lembaga-lembaga budaya yang ada di negeri ini. Antara lain Taman Budaya yang saat ini eksistensinya telah tersebar hampir di seluruh daerah. Eksistensi Taman Budaya sebaiknya bersenyawa dengan inovasi dan teknologi RRI, sehingga bisa menjadi sarana yang strategis untuk membangkitkan ekonomika budaya yang berbasis seni tradisi dan produk handicraft etnik. Kemitraan dengan lembaga-lembaga budaya dan sipil lainnya seharusnya tidak lagi menjadi perangkat dan ad hoc, tetapi harus kontinu. Nilai strategis persenyaawaan itu secara global ditunjukkan oleh Radio BBC yang getol berkolaborasi dengan berbagai museum yang ada di dunia.

Sifat teknologi Radio Broadcasting 2.0 yang praktis dan kolaboratif sangat menunjang proses kreatif, proses produksi dan pemasaran di Taman Budaya. Apalagi sifat teknologi tersebut berbeda dengan radio analog yang mengharuskan penyiar radio repot mengurus semuanya. Sedangkan dalam sistem Radio Broadcaster 2.0 berpola Content-Transmitter-StasiunRelay. Pola tersebut sangat menunjang karena penyiar atau budayawanan lebih bisa berkonsentrasi untuk mendalami content provider dan lebih banyak melakukan proses kreatif dan inovatif.

Definisi kebudayaan yang dikemukakan oleh Ralp Linton menjelaskan bahwa Indigenous Knowledge (IK) merupakan bagian dari suatu kebudayaan, atau bagian dari suatu proses kemajuan peradaban. Dengan demikian, mengidentifikasi dan memahami IK sekaligus mengidentifikasi dan memahami suatu proses budaya berikut hasil-hasilnya. Dalam konteks pembinaan kebudayaan nasional, maka pengidentifikasian dan pemahaman IK berarti juga merupakan salah satu upaya untuk dapat melestarikan kebudayaan nasional. Karena kebudayaan nasional pada dasarnya adalah hasil kemajuan peradaban suku-suku bangsa di seluruh wilayah NKRI. Dalam komunitas masyarakat tradisional, terdapat suatu proses untuk “menjadi pintar dan berpengetahuan” (being smart and knowledgeable). Ciri-ciri IK adalah: lahir dan dikembangkan dalam suatu komunitas masyarakat, bersifat khas dan lokal, merupakan acuan bagi pengambilan keputusan dan penciptaan strategi untuk tetap bertahan hidup. IK pada umumnya berbentuk lisan (oral) dan berbasis pedesaan, dan belum didokumentasikan secara sistematik. Oleh sebab itu RRI memiliki peran strategis untuk membantu tatakelola Indigenous. Agar IK tersebut bisa lestari dan bisa diketahui oleh dunia sebagai obyek pariwisata dan cagar budaya.

Penggunaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dalam pelestarian dan pengembangan IK sebagai salah satu aset bangsa perlu dilakukan secara terus-menerus dan berkesinambungan dengan teknologi Radio 2.0. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan ketahanan budaya. Beberapa entitas budaya memang sudah menggunakan TIK, namun baru sebatas rubrik-rubrik dalam portal yang masih terkesan akademis dan kurang sesuai dengan perkembangan jaman atau Web 2.0. Tak pelak lagi, di era konvergensi TIK sekarang ini RRI selayaknya menjadi ujung tombak dalam revitalisasi indigeneous knowledge dengan infrastruktur TIK. Sehingga masyarakat tradisional memiliki jembatan budaya dengan komunitas global.

Proses transformasi teknologi dan konten di RRI pada gilirannya akan berdampak positip bagi LPP Lokal. Sistem dan teknologi RRI sebaiknya diarahkan juga untuk memberdayakan LPP Lokal yang dimiliki dan dikelola oleh Pemerintah Daerah. Mestinya dengan mengacu pada PP 11/2005 pasal 25 ayat (5) dan (6), bahwa LPP Lokal boleh beriklan. Dengan ketentuan siaran iklan maksimal 15% dari seluruh waktu siaran dan iklan layanan masyarakat paling sedikit menempati 30% dari waktu siaran iklan. Ini merupakan leverage yang harus disikapi secara baik. Dengan demikian LPP Lokal sangat potensial untuk mencerdaskan bangsa dan mampu mempromosikan produk dan potensi pariwisata daerah. Jika LPP lokal milik Pemda telah menggunakan sistem Radio 2.0 lalu mereka berkolaborasi, akan terwujud wahana nasional yang strategis dan memiliki kekuatan luar biasa. Direksi RRI nantinya harus mampu memberikan solusi terhadap LPP Lokal agar bisa mengimplementasikan sistem Radio Broadcasting 2.0 dengan skema pembiayaan yang ideal. Juga harus didorong partisipasi lembaga independen yang mampu mengembangkan teknologi Radio 2.0 untuk diaplikasikan dalam operasional LPP Lokal.

Demikian gagasan dan pemikiran saya terkait visi dan misi calon direksi RRI dalam rangka proses seleksi calon anggota Dewan Direksi LPP RRI. Semuanya demi untuk mengoptimalkan Program dan Tata Kelola Sumber Daya yang diemban oleh LPP RRI.

Terima kasih

Bandung, 20 September 2010

Ir. HEMAT DWI NURYANTO, DEA

Referensi :
1. Fidler, R. Mediamorphosis: Undestanding New Media. California: Pine Forge Press.
2. Leonhard, G. (Director). (2010). Media Futurist Radio [Motion Picture].
3. BBC Strategy Review, March 2010
4. Valerie Geller, Creating Powerfull Radio, Focal Press
5. Thomas L Friedman, The World Is Flat, Dian Rakyat
6. Putting Quality First, The BBC and Public Space

7. Strategic Aligment : Leveraging IT for transforming organisations - IBM System Journal, vol32, NO1

 

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

DATA PERSONAL

 

Nama Lengkap           : Hemat Dwi Nuryanto

Tempat & Tgl. Lahir   : Purworejo 22 Februari 1965

Jenis Kelamin/Status   : Laki-laki / Sudah menikah dengan 2 orang anak

Alamat Rumah           : Jl. Karang Tineung 101 A / 181. BANDUNG 40162

Alamat e-Mail             : hdn2020@gmail.com

Telp. Rumah/HP          : 08112208066/(022) 2060259

Bahasa Asing              : Perancis [Aktif] & Inggris [Pasif]

 

Alamat Kantor                       : e-Broadcasting Institute & ZamrudTechnology

 

Gedung Salman ITB. Lt 2, Jl. Gelap Nyawang No. 4, Bandung 40132 INDONESIA.

Tlp./Fax           : (022) 253 4305, 253 4306/(022) 253 4307

Blog                 : hdn.zamrudtechnology.com

Website            : www.zamrudtechnology.com, www.suararadio.com, www.crayonpedia.org,

    www.sipemilu.org

 

RIWAYAT SINGKAT

 

Lulus dari SMA 1 Teladan Yogyakarta pada tahun 1984, kemudian mendapat Beasiswa Belajar Luar Negri dari PT Industri Pesawat Terbang Nusantara dari oktober tahun 1984 sampai dengan oktober tahun 1992 dalam bidang ’Mechanical Science & Energetic System’, dan menyelesaikan Pendidikan Sarjana & Pasca Sarjana dari Universitas Paul Sabatier, Toulouse, Perancis.

Pernah Memimpin [sebagai Project Secretary] Business Process Re-Engineering Skala Besar (melibatkan pendanaan jutaan dollar, hanya pada tahap preliminary design) berbasis Advanced CAD/CAM/CAE Technology untuk mendukung perbaikan proses Rancang/Bangun Pesawat Jet N2130 [SIDINA Project - “Sistem Digital Terintegrasi Nusantara], dan secara serentak diberi tanggung jawab dalam hal Project Management [Scope & Work Management] pada Program N2130 sampai dengan tahap Preliminary Design.

Dari tahun 1999 terlibat dalam aktifitas Serikat Pekerja - Forum Komunikasi Karyawan PT. Dirgantara Indonesia (SP-FKK PTDI)  yang pernah memiliki keanggotaan mencapai hampir sepuluh ribu karyawan, sebagai salah satu dari tiga orang formatur pengurus SP-FKK yang dipilih melalui musyawarah besar (Mubes), hingga kini masih tercatat sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Organisasi SP-FKK.

Hingga sekarang memimpin pengembangan perangkat lunak [sebagai Chief R&D] dan telah memenangkan 11 Penghargaan Nasional dalam bidang Teknologi Informasi & Komunikasi (kreatif digital) dalam ajang : APICTA-Indonesia, INAICTA, Telkom Indigo Award, dan Indonesian Radio Awards. Terpilih sebagai Tokoh Kreatif Digital dari Telkom Indigo Fellow 2009 untuk Kategori Digital Inventor, serta Pemegang Hak Cipta Atas 4 Produk Software ukuran besar, yang tercermin dari total akumulasi luaran lebih dari : 10 Juta Baris Program, 20 ribu Web-Pages, dan 8 Ribu Halaman Manual, serta pernah memimpin puluhan proyek skala menengah dan besar, dengan pengalaman terapan diberbagai sektor industri dari Aerospace, Government, Broadcasting, Financial, Education, Health, hingga Defense.

Telah menulis lebih dari 70 artikel opini yang telah terbit diberbagai media masa dan pernah mendapatkan 2 (dua) penghargaan dari Ristek dan Mapiptek. Tulisan tersebut bukan hanya merepresentasikan pandangan terkait dengan kegiatan inovasi dan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi bagi kemajuan bangsa, namun juga mencerminkan kerja detail sehari-hari yang sedang dilalui bersama rekan-rekan di ZamrudTechnology dan Lembaga-lembaga terkait.

Disela-sela waktu mengawasi operasional ZamrudTechnology (sebagai Chairman), saat ini kami mencoba untuk berkontribusi untuk hal-hal yang berpeluang membawa manfaat yang besar dengan mendirikan : eBroadcasting Insitute (Lembaga Nirlaba Yang Memiliki Inisiatif Untuk Membangkitkan Industri Penyiaran Radio), Crayonpedia  (Lembaga Nirlaba Yang Memiliki Inisiatif Untuk Memajukan Dunia Pendidikan Indonesia), eDemocracy & Governance Insitute (Lembaga Nirlaba Yang Memiliki Inisiatif Untuk Memajukan Demokrasi dan Tatakelola), dan Indonesia Open Innovation Foundation (Lembaga Nirlaba Yang Memiliki Inisiatif Untuk Mendorong Kegiatan Inovasi Berbasis Model Inovasi Terbuka).

 

PENGHARGAAN YANG DITERIMA

  1. Penghargaan Sebagai Digital Inventor–Telkom Indigo Fellow 2009 (Tokoh Kreatif Digital-Telkom Indigo Awards)  
  2.  Penghargaan Sebagai Pelopor Inovasi Teknologi Aplikasi Penyiaran Terintegrasi Berbasis Internet pada Indonesian Radio Awards 2010 dari Indonesian Association For Media Developmen (PPMN) Untuk Karya Inovasi Radio 2.0 
  3. Penghargaan Sebagai Merit Winner INAICTA 2010 (Indonesia ICT Awards Tahun 2010) Untuk Kategori Soluksi Untuk UKM, untuk karya cipta Inovasi Teknologi & Bisnis Radio 2.0
  4. Penghargaan Sebagai Best Creative Fellowship–Telkom Indigo Fellowship 2009 (Telkom Indigo Awards) Untuk Karya Cipta Inovasi Teknologi & Bisnis Radio 2.0
  5. Penghargaan Sebagai Best Creative Fellowship–Telkom Indigo Fellowship 2009 (Telkom Indigo Awards) Untuk Karya Cipta Crayonpedia  
  6. Penghargaan Sebagai Merit Winner INAICTA 2009 (Indonesia ICT Awards Tahun 2009) Untuk Kategori Open Source, untuk karya cipta Crayonpedia & Next Generation Learning
  7. Penghargaan Sebagai Merit Winner INAICTA 2009 (Indonesia ICT Awards Tahun 2009) Untuk Kategori e-Government, untuk karya cipta e-Democracy & Next Generation Voting 
  8. Penghargaan Sebagai Juara 2 Nasional Tulisan Iptek Tahun 2007 yang diselenggarakan Ristek dan Mapiptek dengan judul “ICT dan Paradoks Singa Makan Rumput” dan Sebagai Juara 3 Nasional Tulisan Iptek Tahun 2010 yang diselenggarakan Ristek dan Mapiptek dengan judul “Menyoal Teknologi dan Biaya Proyek e-KTP”
  9. Penghargaan APICTA-Indonesia Untuk Kategori Media & Entertainment Pada Tahun 2005 [Merit Award], untuk karya cipta RISE [Radio Broadcasting Integrated System : 14 Modul terintegrasi dari Program Director hingga On-Air dan News & Information Networ]
  10. Penghargaan APICTA-Indonesia Untuk Kategori ICT General Pada Tahun 2004 [Special Mention Award], untuk karya cipta Software ARTISA [ Software e-Business Terintegrasi : eBizPortal, eBizFinance, eBizAsset, eBizHRM, eBizProcurement, eBizSales
  11. Penghargaan APICTA-Indonesia Untuk Kategori e-Government & Services Pada Tahun 2003 [Merit Award], untuk karya cipta Software ETNO [ Software e-Government Terintegrasi : eGovPortal, eGovPelayanan, eGovKependudukan, eGovKeuangan, eGovPerlengkapan, eGovKepegawaian, eGovPengadaan
  12. Penghargaan APICTA-Indonesia Untuk Kategori Research & Development Pada Tahun 2003 [Special Mention Award], untuk karya cipta Software GENIO [Software untuk Pemilu 2004 : Dari Pendataan Pemilih Hingga Tabulasi Hasil Pemilu]

 

RIWAYAT PEKERJAAN

 PEKERJAAN MANAJERIAL/PROFESIONAL

-  Chairman (Ketua) e-Broadcasting Institute, Lembaga nirlaba yang fokus pada kegiatan inovasi dan riset dalam rangka membangkitkan industri siaran terutama industri siaran radio dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi. Salah satu karya inovasi dari lembaga ini dapat dilihat di alamat : www.suararadio.com dan telah mendapatkan berbagai penghargaan diantaranya dari Indonesia ICT Awards (INAICTA) 2010, Telkom Indigo Fellowship 2009 dan Asia Pasific ICT Awards Indonesia 2005 [Mei 2009 s/d Sekarang]

- Chairman (Komisaris Utama) dan Chief Research & Development ZamrudTechnology, Melakukan Pengawasan operasional dan pembuat kebijakan R & D di ZamrudTechnology [Maret 2009 s/d Sekarang]
- Founder & Chairman Crayonpedia, Lembaga nirlaba yang fokus pada kegiatan inovasi dan riset dalam rangka memajukan pendidikan dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi. Karya inovasi dari lembaga ini dapat dilihat di alamat : www.crayonpedia.org dan telah mendapatkan berbagai penghargaan diantaranya dari Telkom Indigo Fellowship 2009 dan Indonesia ICT Awards (INAICTA 2009)  
-  Founder & Chairman e-Democracy & Governance Institute, Lembaga nirlaba yang fokus pada kegiatan inovasi dan riset dalam rangka meningkatkan kualitas demokrasi dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi. Karya inovasi dari lembaga telah mendapatkan berbagai penghargaan diantaranya dari Indonesia ICT Awards (INAICTA) 2009 dan Asia Pasific ICT Awards Indonesia (APICTA-Indonesia) 2003

-  Co-Founder & Vice Chairman Indonesia Open Innovation Foundation, Lembaga nirlaba yang fokus pada kegiatan untuk mendorong inovasi berbasis model Inovasi Terbuka (Open Innovation Model) yang implementasinya diantaranya dengan membangun IGOS Center Bandung.

-  CEO (Presiden Direktur) ZamrudTechnology, Memimpin aktifitas pengembangan & penyempurnaan software [R&D], mengembangkan bisnis & memimpin kegiatan pemasaran, pengelolaan SDM & Keuangan perusahaan [Agustus 2005 s/d Maret 2009]

-  Direktur Operasional  PT Pena Telematics Indonesia, memimpin aktifitas produksi  yang meliputi persiapan hingga pelaksanaan proyek-proyek implementasi solusi teknologi informasi untuk pemerintahan & perusahaan, dan pengelolaan SDM di perusahaan [Desember 2000 s/d Juli 2005]

-  Pernah Memegang berbagai jabatan fungsional dan struktural diantarnya sebagai Asisten Kepala Divisi CAD/CAM dan Sekretaris SIDINA Project, Supervisor System Integration–RD dan Work Management-Project Management Program N2130 di PT Dirgantara Idonesia [dulu PT IPTN] dari tahun 1996 sampai dengan 2003 [Akhir 1992 s/d Akhir 2003]

 

PENGALAMAN ORGANISASI

 

 Ketua Dewan Pertimbangan Organisasi & Salah Satu dari Tiga Formatur Pengurus SP-FKK PTDI [Forum Serikat Pekerja PT Dirgantara Indonesia] periode tahun 2000 s/d sekarang, yaitu sebuah organisasi serikat pekerja dengan jumlah keanggotaan pernah mencapai lebih dari 10.000 orang.

 

 RIWAYAT PENDIDIKAN & PELATIHAN

 PENDIDIKAN FORMAL

-  Menjalankan Pendidikan Tinggi di UNIVERSITAS PAUL SABATIER TOULOUSE III dari tahun 1984 s/d 1992 di TOULOUSE–PERANCIS dibidang ”Mechanical & Energetics System”, dan telah menyelesaikan pendidikan Sarjana [Maitrise] dan Pasca Sarjana [Diplome Etude Aprofondie]

-  Menyelesaikan pendidikan Sekolah Menengah Atas dari SMA 1 Teladan Kodya Yogyakarta pada tahun 1984 di Kota Yogyakarta

 

PELATIHAN - PELATIHAN

-  Mengikuti berbagai Pelatihan Teknis diantaranya : Penggunaan Software Computational Fluids Dynamics [PHOENICS] di TRANSOFT Perancis, Programming & Software Engineering di beberapa institusi di Perancis/Luar Negri, serta mengikuti On the Job Training bidang CAD/CAM di BOEING, Seatle - USA

-  Mengikuti berbagai Pelatihan Manajemen yang meliputi : Manajemen Strategik, Pemasaran, Keuangan, SDM, dan Produksi dari berbagai lembaga pelatihan dari dalam di luar negri seperti MarkPlus, Redecon, EURESAS,dll

 

 

PUBLIKASI ILMIAH [S/D TAHUN 2000]

 

1997        Development of Integrated Design & Engineering for Automotive, Hemat Dwi Nuryanto, Riesdam E, AF Priyatmono, D.F. Erawan, P.E Sanyoto, International Pacific Conference for Automotive Conference, IPC Nov’97 in Bali.

1997        Konsep Pengembangan Pusat Unggulan Rekayasa Industri / Pusat Unggulan Rekayasa Otomatif, Hemat Dwi Nuryanto, AF Priyatmono, Seminar Pengembangan Teknologi untuk Membangun Masyarakat Mandiri, Nov’97 Surakarta

1995        Suatu Pemikiran Awal Mengenai Strategi Penguasaan Advanced Manufacturing Technology, Hemat Dwi. Nuryanto, Satryo Soemantri B, Imam Suwarto, I Wayan Suweca, Seminar CADCAM 95, Institut Teknologi Bandung

1995        An Application Of Object Oriented Methodologi For Aerofoil Design Automation, Hemat Dwi Nuryanto, Juergen Holzner, Seminar CADCAM95, Institut Teknologi Bandung

1995        Penelitian & Pengembangan Product Automation System Untuk Mendukung Rekayasa Ulang Industri Rancang/Bangun, Hemat Dwi Nuryanto, Imam Suwarto, Satryo Soemantri B., I Wayan Suweca, Seminar CADCAM95, Institut Teknologi Bandung

1994        Pemanfaatan Teknologi CAD/CAM Dalam Proses Rekayasa N250, Hemat Dwi Nuryanto, Seminar CAD/CAM94, Institut Teknologi Bandung.

 

 

 

 Bandung,20 September 2010

 

 

 

           

(Hemat Dwi Nuryanto)

 

 

 

Share