Kontan, Senin, 9 Agustus 2010
Kegiatan ekonomi di daerah membutuhkan media periklanan yang efektif dan bisa menjalar tanpa batas. Media periklanan itu bisa diwujudkan antara lain melalui sinergi antara radio siaran, internet dan jejaring sosial. Radio siaran yang tersebar diseluruh daerah bisa mengambil peran sebagai media periklanan daerah atau local advertising ( local ads ) dengan metode yang canggih, efektif dan tanpa batas. Caranya, mereka harus terlebih dahulu mentransformasikan model bisnisnya dengan sistem Radio 2.0. Yakni sistem radio yang tata kelolanya berbasis internet dan adaptif dengan jejaring sosial yang ada.
Jika radio siaran di daerah telah menggunakan sistem Radio 2.0 lalu mereka berkolaborasi, akan terwujud media periklanan daerah yang strategis dan memiliki kekuatan luar biasa. Hasil pilot project radio siaran di daerah yang sudah bertransformasi mencuatkan fenomena yang cukup menarik. Yakni berlakunya prinsip atau strategi long tail economic. Materi periklanan daerah, baik yang menyangkut produk komersial, maupun berupa iklan jual beli pribadi seperti motor,mobil, tanah, rumah, barang-barang lainnya bisa diakses secara luas. Baik itu lewat sms, website, maupun jejaring sosial internet seperti Facebook. Tidak mengherankan jika komunitas buruh migran Indonesia yang sedang bekerja di Hongkong, Timur Tengah atau negara lainnya merasa sangat terbantu saat dirinya berencana membelikan sesuatu kepada kerabatnya di kampung. Mereka cukup membuka facebook dan memilih profil radio siaran di daerahnya. Disitu dia bisa membuka media iklan daerah dan berinteraksi dengan pihak-pihak yang berkepentingan. Atau sekedar mendengarkan siaran langsung radio daerah untuk melepas rindu dengan sanak saudara di kampungnya.
Dengan media periklanan daerah yang bersifat long tail economic itu maka pihak pemerintah daerah juga bisa mengiklankan potensi daerah secara lebih praktis dan mengglobal. Terutama untuk destinasi pariwisata daerah. Apalagi karakter dari media periklanan dengan sistem radio 2.0 adalah long tail keywords. Karakter itu pada prinsipnya adalah terintegrasinya frase yang ditulis konsumen di kotak pencarian search engines untuk mencari informasi tertentu dan akhirnya sampai pada situs tersebut. Dengan menggunakan variasi kata kunci untuk produk yang low in demand akan dapat memberikan trafik yang lebih dibandingkan jika hanya dengan satu kata kunci utama. Oleh karena itu, kolaborasi Radio 2.0 sangat ampuh dalam membangun variasi long tail keywords. Apalagi di era digital sekarang ini, produk dan jasa yang sangat spesifik dapat diiklankan secara menarik namun murah dan efektif. Dengan long tail keywords bisa menarik pengunjung spesifik dan terukur dibandingkan dengan keyword umum. Bayangkan jika ada ratusan radio siaran di negeri ini yang berkolaborasi, maka karakter diatas semakin kuat.
Dalam domain ekonomi, fenomena long tail adalah pergeseran ekonomi dalam hal ini produk utama dan pemimpin pasar yang jumlahnya hanya beberapa menuju niche-niche kecil yang jumlahnya banyak. Pergeseran seperti itu diprediksi akan meningkat berbanding lurus dengan waktu. Salah satu penyebabnya adalah rendahnya biaya produksi dan distribusi khususnya dalam bisnis online. Dengan rendahnya biaya-biaya tersebut maka ada kebebasan memasarkan produk-produk specific tanpa harus berpikir tentang cost yang tinggi. Teori long tail digagas oleh Chris Anderson. Teori itu menyatakan bahwa dengan melayani pasar minoritas, membuat dan menyediakan produk (low in demand) yang sesuai secara konsisten akan dapat meningkatkan keuntungan yang besar dibandingan jika harus bertarung dan hanya terfokus pada produk yang sudah lebih dulu popular. Teori diatas sangat relevan bagi entitas periklanan, khususnya periklanan daerah yang tengah membangun eksistensi dengan memilih media yang tepat.
Media periklanan daerah dengan sistem Radio 2.0 mendapatkan angin segar karena trend dunia menunjukkan bahwa usaha radio siaran sangat cerah. Hal itu ditunjukkan dengan adanya indikator Radio Listenership di USA yang mencapai 93 % dan tidak jauh berbeda dengan Eropa, Jepang dan Australia. Sayangnya terdapat anomali di negeri ini, sehingga perkembangan radio siaran tidak optimal jauh dibawah potensi rata-rata dunia. Hal itu disebabkan belum adanya lompatan masal teknologi serta belum idealnya regulasi yang menyangkut sistem siaran nasional dan berjaringan. Dari aspek ekonomi, menurut ZenithOptimedia potensi belanja iklan dunia mencapai 504 miliar dollar AS. Dari jumlah itu belanja iklan radio dunia mencapai 39 miliar dollar AS (7,8%). Data AC Nielsen menyebutkan bahwa belanja iklan media di USA mencapai 117 miliar dollar AS, sedang belanja iklan radio disana mencapai 16 miliar dollarAS (13%). Ironisnya terjadi anomali di negeri ini, dimana belanja iklan media mencapai Rp 48,5 triliun (AC Nielsen), disisi lain belanja iklan radio hanya mencapai Rp 630 miliar (1,3%). Diharapkan hasil transformasi teknologi dan inovasi bisnis radio 2.0 akan mengatasi anomali tersebut hingga menuju standar dunia.
Transformasi dan kolaborasi sudah dilakukan oleh entitas radio siaran di kota besar, kabupaten dan yang berada di pelosok daerah. Seperti Radio K-Lite Bandung, Radio Zora Bandung, Radio Antares Garut, Radio Best Garut, Radio Sukapura Tasikmalaya, Radio Buanajaya Tasikmalaya, Radio RIS Pangandaran, Radio Rasilima Kuningan, Radio Actari Ciamis, dan lain-lain. Dengan sistem Radio 2.0 para pengelola radio merasa sangat terbantu, karena kinerja SDM radio lebih terarah serta lebih memacu kreativitas untuk meningkatkan kualitas siaran. Kolaborasi radio siaran bisa lebih determinan jika membangun portal kolaborasi konten radio. Dimana semua radio dapat memuat berita atau kontennya yang ter-update otomatis dari setiap website masing-masing radio. Secara real time tayang (pod casting), pendengar dapat menyimak berita atau konten musik, dari gadget-nya di mana pun berada. Kelebihan lain, di antaranya, para pemasang iklan di radio di mana pun berada dapat memantau iklannya secara real time, maupun melihat archive jam pemutaran secara nyata. Kecanggihan itu dapat bekerja, karena adanya jantung aplikasi yang diciptakan menggerakkan, berupa aplikasi RISE (Radio Broadcasting Integrated System).
*) Chairman Zamrud Technology, Alumnus UPS Toulouse Prancis
Share Blog ini dibangun untuk merangkum serakan pemikiran penulis yang telah terbit di berbagai media masa maupun yang belum. Bila dirangkum, serakan pemikiran tersebut bermaksud mendorong sikap berdikari untuk membangkitkan negri dan menggambarkan perjalanan yang tidak terlalu rumit untuk menuju negeri harapan. Pada tahap awal, mayoritas pemikiran difokuskan dalam hal peranan Teknologi Informasi untuk perbaikan daya saing bangsa ("Nation Driven Information, Communication, and Broadcasting Technology")
Semua karya cipta, baik yang berupa tulisan maupun software dapat terealisasi terutama karena "Rahmat dari Allah SWT" serta dukungan dari rekan-rekan saya dari ZamrudTechnology, Crayonpedia, eDemocracy & Governance Institute, dan eBroadcasting Institute. Semoga membawa manfaat bagi bangsa, negara, dan kemanusiaan.
Leave a reply