Masih adakah potret negeri harapan didalam benak dan sanubari rakyat ? Mestinya para pemimpin dari berbagai tingkatan mampu memberikan gambaran tentang negeri harapan yang akan dituju. Karena potret itu bisa menjadi generator atau pembangkit kemajuan. Pemimpin formal pertama bangsa ini merupakan salah satu contoh sosok yang piawai dalam melukiskan negeri harapan pada masanya. Kepiawaiannya itu membuahkan gelora jiwa dan semangat rakyat hingga harkat dan martabat bangsa ini terangkat dalam posisi terhormat diantara warga dunia. Potret negeri harapan juga akan membentuk budaya ekonomi yang arif, kompetitif dan cerdik mengambil peluang.
Pada era sekarang ini untuk mewujudkan negeri harapan tidak harus membutuhkan orang atau tokoh yang luar biasa. Orang biasa sekalipun, asalkan memiliki mimpi yang luar biasa dan kerja detail yang luar biasa akan berhasil menuju negeri harapan. Salah satu sosok yang mampu menuju negeri harapan skala desa adalah ibu Katrina. Dia adalah sosok rakyat jelata yang memiliki mimpi dan kerja detail yang luar biasa. Dia adalah ibu yang “melahirkan” pepohonan di tanah bebatuan yang tandus dan gersang dengan daya upayanya sendiri. Perempuan miskin yang tidak lulus SD itu menerima penghargaan Kalpataru untuk kategori Perintis Lingkungan. Karena dinilai telah berjasa menghijaukan lahan kritis dengan tanaman keras, seperti Cendana, Lame, Mahoni, Johar, dan Kemiri yang mana semua itu memiliki nilai ekologi dan ekonomi yang sangat besar dimasa depan. Nilai ekologis atau intrinsik dari pohon-pohon Ibu Katrina ternyata jauh lebih besar dari nilai nominalnya. Salah satu nilai intrinsik tersebut adalah pulihnya kembali siklus hidrologi yang selama bertahun-tahun telah menghilang.
Bagi segenap warga negara, utamanya yang telah mengecap pendidikan yang cukup mestinya terinspirasi langkah Ibu Katrina menuju negeri harapan. Apalagi kekuatan konvergensi teknologi semakin mendatarkan dunia seperti yang digambarkan dalam buku The World Is Flat, karangan Thomas L.Friedman. Kekuatan konvergensi itu bisa membantu mewujudkan negeri harapan dalam tempo yang lebih singkat. Yang lebih istimewa lagi, kekuatan konvergensi itu ternyata banyak yang diciptakan oleh kaum belia. Antara lain Sergey Brin dan Larry E.Page sang pendiri Google. Hingga saat ini Google berusaha menjadikan dirinya sebagai perusahaan yang memiliki misi mengelola sesuatu yang sangat luas dan tak terbatas. Contoh lain si pencipta kekuatan konvergensi adalah Mark Zuckerberg, sang belia yang mendirikan Facebook sebagai jejaring komunitas sosial yang sangat populer. Sosok-sosok belia diatas selain membuat dunia semakin datar sekaligus juga menjadikan dirinya masuk dalam deretan orang terkaya di dunia.
Saya jadi teringat tesis Prof. Srihardjoko seorang pakar mesin produksi dari ITB. Pada saat seminar nasional CAD/CAM beberapa tahun yang lalu dia menyampaikan pendapat bahwa meskipun kondisi daya saing bangsa
Dalam lintasan abad, kita bisa menyimak sejarah perkembangan bangsa-bangsa di dunia. Perjalanan dari negara kurang maju sampai menjadi maju terlihat siklusnya semakin pendek. Pada era peradaban Mesir kuno perlu beberapa ribu tahun, Peradaban Romawi dan Yunani dalam order kurang dari seribu tahun, Era Renaisance dan Peradaban Islam sepanjang 700-an tahun, Eropa kurang dari 400 tahun, Amerika Serikat perlu sekitar 200-an tahun, Jepang kurang dari 100 tahun, dan kejayaan Republik Rakyat China bakal menjadi fenomena yang sangat menarik karena butuh waktu efektif kurang dari 50 tahun.
Beberapa ilmuwan sosial baru-baru ini menyatakan bahwa pada saat ini
Blog ini dibangun untuk merangkum serakan pemikiran penulis yang telah terbit di berbagai media masa maupun yang belum. Bila dirangkum, serakan pemikiran tersebut bermaksud mendorong sikap berdikari untuk membangkitkan negri dan menggambarkan perjalanan yang tidak terlalu rumit untuk menuju negeri harapan. Pada tahap awal, mayoritas pemikiran difokuskan dalam hal peranan Teknologi Informasi untuk perbaikan daya saing bangsa ("Nation Driven Information, Communication, and Broadcasting Technology")
Semua karya cipta, baik yang berupa tulisan maupun software dapat terealisasi terutama karena "Rahmat dari Allah SWT" serta dukungan dari rekan-rekan saya dari ZamrudTechnology, Crayonpedia, eDemocracy & Governance Institute, dan eBroadcasting Institute. Semoga membawa manfaat bagi bangsa, negara, dan kemanusiaan.
Leave a reply