Kompas, Jawa Barat, 23 Oktober 2008

Rakyat menyambut dingin pengumuman daftar calon sementara (DCS). Apalagi daftar tersebut kurang memberikan gambaran sejati terhadap kapasitas caleg.  Strategi primitif dari parpol dan para caleg yang tengah jor-joran memasang bendera dan baliho semakin membuat rakyat jenuh. Dalam era wikinomics sekarang ini mestinya para politisi berusaha menjadikan partainya bercorak Ideagora, melakukan kampanye softpower serta mewujudkan rumah konstituen yang ramah dan menarik.Tudingan ilmuwan sosial Julien Benda lewat karya termasyhurnya ”The Treason of the Intellectuals” (Pengkhianatan Kaum Intelektual) sepertinya masih cukup relevan untuk melukiskan tingkah laku sebagian politisi di negeri ini. Cukup banyak politisi yang terpilih menjadi anggota DPR atau DPRD yang kerjanya tidak profesional dan kurang optimal. Akibatnya, banyak persoalan bangsa yang tidak pernah tuntas. Bahkan, diantara mereka acapkali melakukan pengkhianatan terhadap konstituennya dalam bentuk korupsi, suap, hingga gaya hidup boros dan glamor. Rakyat juga melihat para anggota dewan selama ini lebih asyik mengurus hak-hak dan fasilitas pribadinya. Semua itu membuat kredibilitas atau citra politisi dan parpol sempat jatuh ke titik nadir.Hingga saat ini corak atau narasi parpol kebanyakan masih bersifat normatif dan kurang sesuai dengan semangat jaman. Padahal, pada era wikinomics sekarang ini ada fenomena luar biasa yang disebut Ideagora. Fenomena itu mestinya bisa menjadi corak dari parpol. Secara harfiah parpol bercorak ideagora bisa diartikan sebagai partai politik yang berperan aktif sebagai pasar bagi gagasan, inovasi, dan pikiran unik yang sangat berkualitas bagi khalayak. Dalam bahasa Yunani kuno ideagora berasal dari akar kata agora. Yakni sebuah tempat yang menjadi pusat aktivitas politik dan perdagangan bagi warga Athena kuno. Dalam konteks wikinomics sekarang ini, ideagora memberikan fungsi yang spesifik karena memungkinkan gagasan, penemuan baru, dan keahlian ilmiah dunia dapat diakses dan dikembangkan lebih lanjut oleh perusahaan atau siapapun. Dalam konteks diatas perusahaan atau perseorangan dapat memanfaatkan kekuatan globalisasi untuk mencari pikiran unik berkualitas serta menemukan dan membangun produk dan jasa baru dengan lebih cepat dan efisien dibanding sebelumnya. Fenomena itu biasa disebut pasar ideagora, yang merupakan kolaborasi massal dari sebuah entitas yang disebut net generation. Bisakah parpol bercorak ideagora diwujudkan di negeri ini ? Perkembangan teknologi internet yang berbasis Web 2.0 telah melengkapi tesis yang dikemukakan oleh Alexander Bard dan Jan Soderqvist. Seperti dalam bukunya yang berjudul “Netocracy : The New Power Elite and Life After Capitalism” (2002). Yang pada intinya mengemukakan berlangsungnya proses transformasi demokrasi menuju kekuasaan jaringan (netos) atau netokrasi (netocracy). Tak bisa dimungkiri lagi bahwa perkembangan konvergensi TIK saat ini merupakan wahana yang sangat ampuh untuk membangun jaringan sekaligus menjadi viral marketing. Konvergensi TIK juga sangat membantu para politisi untuk mengelola aspirasi dengan membuat rumah konstituen secara virtual. Rumah virtual tersebut merupakan sarana komunikasi yang sangat efektif dalam tugas-tugas legislasi seperti proses penyusunan undang-undang, peraturan daerah hingga menyusun APBN/APBD. Juga sangat praktis sebagai wahana laporan pertanggung jawaban anggota legislatif kepada para pendukungnya. Rumah konstituen virtual yang menggunakan teknologi internet dan Web 2.0. akan menjadi viral marketing yang bekerja luar biasa. Karena cepatnya penyebaran informasi kepada publik melalui teknologi Web 2.0 seperti Blog, Interactive Web (AJAX), Streaming Video YouTube, Slideshow Flickr.Supaya rakyat tidak jenuh menghadapi hiruk pikuk politik para caleg harus menemukan cara berkampanye yang lebih cerdas, efektif, serta tidak memboroskan waktu dan sumber daya. Untuk meningkatkan kualitas berdemokrasi sesuai dengan perkembangan jaman dibutuhkan kampanye yang bercorak soft-power yang bisa mengasah naluri publik dan memahami nalar politik. Definisi soft-power untuk menjelaskan suatu pendekatan yang bersifat persuasif, komprehensif, menyuarakan hati nurani, serta mengucurkan empati dan kasih sayang. Kebalikannya adalah kampanye bercorak hard-power yang mengedepankan cara koersi ( coercion ), kerumunan masa, hingga intimidasi dan pemaksaan kepada pihak lain. Ada pihak yang berpendapat bahwa kampanye bercorak soft-power dianggap kurang populis dan tidak menggigit. Sebaliknya kampanye hard-power dianggap lebih menggetarkan, cepat dicerna oleh rakyat jelata dan mampu menciptakan panggung sesaat bagi politisi. Namun, anggapan diatas bisa dikatakan keliru. Pasalnya, kampanye bercorak soft-power pada era konvergensi TIK sekarang ini justru lebih efektif dan bisa menjalar dalam domain kerakyatan lebih luas. Apalagi teknologi internet yang berbasis web 2.0 semakin mengakselerasi kampanye bercorak soft-power dengan berbagai wahana jejaring sosial yang lebih dahsyat. Apalagi sudah banyak kaum intelektual dan politisi di tanah air yang telah memiliki website ataupun blog pribadi yang secara utuh bisa menggambarkan aktivitas, karya dan pemikirannya. Selain itu mesin pencari internet juga bisa dijadikan alat untuk mengukur kapabilitas, ketenaran, dan dialektika seorang caleg. Harus diakui dengan lapang dada, hingga saat ini marketing partai politik di tanah air banyak yang belum menemukan bentuk yang memesona. Masih didominasi dengan tebar baliho, bendera, poster dan stiker yang berisi foto dan janji manis dari caleg. Tidak jarang bentuk marketing politik diwarnai dengan bagi-bagi uang dan bantuan sembako secara terselubung. Padahal, cara-cara seperti diatas mestinya diganti dengan taktik pencitraan yang mulia. Seperti pada era revolusi kemerdekaan Indonesia tempo dulu. Dimana seorang pemimpin lahir karena buah pikir dan dialektika profesinya. Sedangkan pada saat ini kepemimpinan dalam berbagai tingkatan lahir begitu instan. Dengan demikian proses rekrutmen kepemimpinan tengah mengalami proses involusi dan bergerak tanpa karakter yang jelas. Ada peringatan serius dari O’Soughnessy yang wajib kita renungkan. Peringatan itu menyangkut penggunaan metode marketing politik yang mengedepankan kekuatan uang akan membusukkan proses demokrasi yang dampaknya sangat buruk dibelakang hari. HEMAT  DWI  NURYANTO,  CEO Zamrud Technology, alumni Universitas Paul Sabatier Toulouse Perancis.           

Share