Kiprah Staf Khusus Presiden selalu menarik perhatian publik dan tentu saja berimplikasi terhadap gaya manajemen Kepala Negara dalam mengelola pemerintahan. Kasus blue energy dan kekecewaan para petani di Purworejo Jateng terhadap benih padi Super Toy HL-2 merupakan kiprah staf khusus Presiden yang bisa menimbulkan situasi dis-influencing kenegaraan. Mestinya, para staf khusus Presiden itu harus mencegah hal-hal yang mengakibatkan situasi dis-influencing. Dalam bahasa terangnya selalu menghindarkan langkah-langkah lembaga Kepresidenan dari kegagalan memberikan motifasi kebangsaan serta mencegah memburuknya komunikasi dengan rakyat. Jangan sampai sinyalemen pakar kepemimpinan Warren Bennis yang menyatakan bahwa kebanyakan organisasi terlalu banyak dikelola (overmanaged) dan terlalu sedikit dipimpin (underlead) terjadi di kantor Kepresidenan RI.

Kasus Blue Energy dan padi Super Toy merupakan nuansa eufimisme pembangunan yang kontraproduktif dalam membangkitkan negeri. Betapa menyedihkan jika Presiden telah turun langsung mempromosikan kehebatan Blue Energy dan padi Super Toy kepada rakyat. Namun, hasilnya justru terbalik seratus delapan puluh derajat. Seperti ditunjukkan oleh para Petani di Desa Grabag, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah yang sangat kecewa dan kapok menanam padi jenis tersebut. Para petani gagal panen akibat kualitas padi itu yang lebih buruk dibandingkan dengan jenis IR yang biasa mereka tanam.

Tak bisa dimungkiri lagi bahwa Staf Khusus Presiden merupakan jabatan yang sangat bergengsi. Dengan demikian faktor integritas dan kompetensi menjadi sangat penting untuk mengisi jabatan tersebut. Sejarah telah menunjukkan bahwa para pemimpin pemerintahan maupun perusahaan multinasional senantiasa membutuhkan peran inner circle atau staf khusus untuk mengakselerasikan kebijakannya. Staf khusus Presiden RI mekanismenya dirancang mirip dengan NSC (National Security Council) di Amerika Serikat. Karena sewaktu proses penyusunan Undang-Undangnya memang berkiblat ke sana. Staf khusus untuk Kepala Pemerintahan maupun CEO korporasi oleh majalah Fortune biasa disebut dengan istilah Tim Super, yakni tim lintas fungsional yang berprestasi tinggi. Biasanya Tim Super itu memiliki integritas dan kompetensi yang luar biasa. Mereka itu selalu bekerja secara detail dan analitis dalam membantu atasannya. Di Federal Express Tim Super dibentuk untuk menyelesaikan masalah penagihan, menambal kebocoran serta menghemat biaya puluhan juta dollar AS per-tahunnya.

Tim Super itu memiliki sistem informasi yang sangat akurat dan real time. Biasanya mereka juga ditunjang oleh Expert System yang canggih untuk menyajikan data-data eksklusif. Dalam tataran korporasi raksasa di Amerika Serikat tim diatas biasa disebut dengan istilah skunk works. Merupakan staf khusus yang ditugaskan untuk mengembangkan proyek terobosan. Dalam sejarahnya metode Skunk works pertama diciptakan oleh Clarence Kelly Johnson dari Lockheed Aerospace Corporation. Proyek tersebut memiliki dua target yakni  menciptakan pesawat jet pemburu Shooting Star dan memproduksinya secepat mungkin. Dalam waktu yang singkat tim Johnson yang terdiri dari 23 insinyur menjadi pejuang Amerika yang pertama terbang dengan kecepatan lebih dari 500 mil per jam. Pemerintah Amerika terus menggunakan istilah Skunk Works bagi tim nasional yang bertugas membuat berbagai terobosan.

Tampaknya, lain negara lain pula spesifikasi tentang staf khusus kepala pemerintahan. Namun, ada satu hal mendasar yang harus dijadikan rujukan, yakni faktor efektivitas dalam membantu tugas Presiden. Dimasa yang akan datang siapapun yang terpilih menjadi Presiden RI hendaknya menitik beratkan faktor efektivitas dalam membentuk staf khusus. Sehingga, para staf khusus tidak boleh menjalankan hidden agenda masing-masing. Staf Khusus Presiden hendaknya memahami betul konsep yang dikemukakan oleh pakar manajemen tersohor Peter Drucker. Yaitu pentingnya pemahaman mengenai efisiensi dan efektivitas dalam organisasi. Menurutnya efisiensi berarti “melakukan sesuatu dengan tepat” dan efektivitas berarti “melakukan sesuatu yang tepat”. Efisiensi merupakan kemampuan melakukan sesuatu dengan tepat yang merupakan konsep “input-output”. Seorang manajer yang efisien adalah seorang yang mencapai output, atau hasil yang diukur dengan input (tenaga kerja, material, dan waktu) yang dipergunakan. Manajer yang bertindak secara efisien mampu meminimalkan biaya sumber daya yang diperlukan. Efektivitas, sebaliknya, adalah memilih sasaran yang tepat. Seorang manajer yang memilih sasaran tidak tepat, misalnya mengutamakan memproduksi mobil besar ketika mobil berukuran kecil sedang melonjak adalah seorang manajer yang tidak efektif, walaupun mobil yang diproduksinya dengan efisiensi maksimum. Beberaapa tahun yang lalu para manajer di General Motors belajar tentang hal ini dengan cara yang harus dibayar sangat mahal. Ketika permintaan mobil yang hemat bakar, dan berukuran kecil naik di tahun 1970-an, GM mengabaikan persaingan yang diciptakan oleh Jepang dan Jerman, percaya bahwa kecenderungan itu adalah penyimpangan dan orang Amerika akan loyal pada mobil buatan Amerika, tidak akan terus membeli mobil asing. Sebagai konsekuensinya, mereka terus memproduksi mobil besar, dan boros bahan bakar. Dengan melakukan hal itu GM banyak kehilangan pangsa pasar daripada pesaing yang baru datang. Konklusinya, efisiensi sebanyak apa pun tidak dapat menutupi kekurangan dalam efektivitas.

Dalam konteks kasus Blue Energy dan padi Super Toy kiprah Heru Lelono sebagai Staf Khusus Presiden bidang mahasiswa dan gerakan masyarakat sudah cukup efisien. Karena dalam waktu yang singkat telah banyak pihak atau organisasi yang berhasil dibina atau dirangkul untuk mensuport kekuasaan Presiden SBY. Sehingga pada waktunya nanti bisa dijadikan penopang politik praktis dalam pertarungan Pemilu. Diam-diam langkah Heru Lelono cukup efisien dalam menambah lapisan-lapisan pendukung Presiden SBY. Sayangnya, langkah Heru Lelono kurang efektif dalam menyelesaikan persoalan kerakyatan secara luas. Kasus pahit Blue Energy dan padi Super Toy merupakan akibat dari hilangnya efektivitas. Akibatnya, kasus diatas memperpanjang tradisi politik di Tanah Air yang selalu overdosis mencurigai inner-circle Presiden. Masih hangat dalam ingatan kita, pada awal Orde Baru berkuasa, inner-circle Presiden identik dengan Aspri ( asisten pribadi ) Presiden. Dengan tokoh utama Soedjono Humardani dan Ali Murtopo. Mereka memiliki pengaruh yang signifikan didalam hal mekanisme pengambilan keputusan mantan Presiden Soeharto. Pada era pemerintahan Gus Dur, inner circle sering dituding sebagai “Kabinet Malam”. Pada era  pemerintahan SBY sekarang ini inner circle telah memiliki dasar hukum yang jelas. Sayangnya, eksistensi Staf Khusus Presiden terlihat belum optimal. Bahkan mulai menimbulkan trouble maker. Dimasa mendatang perlunya mencegah terjadinya metamorfosis inner circle Presiden menjadi calo politik yang bisa mengurangi kredibilitas pemerintahan.

*) CEO Zamrud Technology, Alumnus UPS Toulouse Perancis

Share