Potret pendidikan nasional masih terlihat buram. Masalah pendidikan di tanah air masih ditangani secara eksesif sehingga kurang menyentuh akar persoalan. Tak pelak lagi, biaya sekolah yang semakin mahal menyebabkan angka putus sekolah cukup tinggi. Begitu pula kesenjangan mutu dan infrastruktur pendidikan semakin melebar di berbagai daerah. Dilain pihak terobosan yang dilakukan oleh pemerintah seperti program Buku Elektronik (E-Book) untuk pelajar Indonesia masih terkendala berbagai persoalan teknis dan non teknis. Buku Elektronik yang akan diresmikan oleh Presiden SBY tanggal 20 Agustus 2008 membawa berbagai implikasi. Terlihat beberapa pihak masih kesulitan mengunduh (download) langsung dari internet. Selain itu jumlah mata pelajaran juga belum lengkap. Begitupula tentang Lembar Kerja Siswa (LKS) belum tersedia. Hingga saat ini Buku Elektronik tidak secanggih yang semula dibayangkan oleh para siswa.
Prospek Buku Elektronik di tanah air mestinya dirancang agar searah dengan fenomena Wikinomics. Yang mana fenomena globalisasi itu ditandai oleh semangat jaringan sosial yang saling terbuka, saling berbagi dan berkonsultasi, dan saling bekerja cerdas secara global (global smart working). Trend global Wikinomics salah satunya ditunjukkan oleh Wikipedia yang didirikan oleh Jimmy Wales. Wikipedia yang setiap bulannya mendapat 2,5 miliar kunjungan itu merupakan Website yang memungkinkan warga dunia bisa langsung mengedit halaman Web dari komputer masing-masing. Sukses Wikipedia membuat Google sangat agresif dalam mengembangkan aplikasi serupa yang diberi nama Knol.
Prospek ekonomis Buku Elektronik juga belum mereduksi biaya sekolah secara signifikan. Malahan membuat guncangan bagi penerbit dan toko buku. Secara teknis Buku Elektronik juga kurang memikat dan belum mendongkrak motifasi belajar para siswa. Aktifitas penggunaan internet dari para siswa belum bergeser ke Buku Elektronik, tetap saja didominasi untuk kegiatan chating, blog, game dan memanfaatkan kecanggihan mesin pencari. Prospek Buku Elektronik bisa cerah, berdayaguna optimal dan kontennya berkembang pesat jika ekosistem sekolah disesuaikan terlebih dahulu dengan perkembangan internet yang tengah mengarah ke teknologi Web 2.0. Yang ditandai berkembangnya sistem berbasis jejaring sosial. Juga diwarnai teknologi AJAX yang memungkinkan berjalannya aplikasi web seperti aplikasi desktop, berkembangnya teknologi multimedia baik audio dan video streaming, dan lain-lain. Sistem di sekolah yang memanfaatkan kemajuan internet diatas disebut dengan Sistem Sekolah 2.0. Sistem tersebut dibangun untuk menunjang penyelenggara satuan pendidikan tingkat dasar dan menengah dengan menerapkan manajemen berbasis sekolah sesuai Standar Nasional Pendidikan.
Pada prinsipnya Sistem Sekolah 2.0 mengintegrasikan Portal Sekolah dengan layanan pembelajaran seperti e-Academic, e-LearningManagement, e-Authoring&Learning, e-Library, dan Layanan Administrasi Sekolah. Sistem Sekolah 2.0 bisa meningkatkan kinerja guru secara progresif. Wadah guru yang sudah ada, yaitu kelompok kerja guru (KKG) untuk tingkat SD dan musyawarah guru mata pelajaran (MGMP) untuk tingkat sekolah menengah bisa terartikulasi secara baik. Sistem itu membuat aktifitas guru di KKG/MGMP memungkinkan membuat materi ajar secara kolaboratif dan efektif. Sistem diatas juga membantu jejaring kerja untuk peningkatan profesionalitas guru berkelanjutan yang melibatkan instansi pusat, Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (P4TK), Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) dan Dinas Pendidikan Propinsi/Kabupaten/Kota serta Perguruan Tinggi setempat. Sehingga tersedia wahana untuk pembinaan profesi guru secara terus menerus (continuous profesional development). Wahana semacam itu mulai dibuat oleh Tim Jardiknas untuk menyediakan layanan berbagi yang berbasis multimedia bagi para guru, siswa dan pihak lainnya melalui Media Jardiknas. Meskipun karya para guru yang diunggah (upload) di Media Jardiknas masih banyak yang sederhana/minimalis dan belum ada standarisasi mutu konten, tetapi media itu untuk kedepan bisa membangun budaya upload dan mendorong penciptaan karya ilmiah.
Selain Jardiknas juga ada wahana pendidikan berbentuk ensiklopedia on-line yang bersifat kolaboratif. dan dedicated di bidang pendidikan. Dengan nama Crayonpedia. Istilah tersebut merupakan persenyawaan dari dua suku kata, yakni “Crayon” akronim dari Create Your Open Education Content dan “Pedia” atau ensiklopedia. Persenyawaan itu memiliki makna sebagai penyedia Open Education Content Authoring. Crayonpedia dirancang oleh praktisi pendidikan bersama pengembang TIK. Hasil rancang bangun kolektif itu diproyeksikan sebagai solusi atau jawaban untuk mendatarkan sistem pendidikan di negeri ini. Sekaligus sebagai salah satu wahana untuk turut membangun kurikulum Zeitgeist atau kurikulum yang mampu beradaptasi dengan semangat dan perkembangan jaman. Sebagai catatan negara-negara maju seperti Amerika Serikat secara dini telah menemukan kesadaran nasional tentang kurikulum dan mutu pendidikan yang sesuai dengan tuntutan jaman. Kesadaran itu mengkerucut dalam tema besar “A Nation at Risk, The imperative for Education Reform“. Tema itu telah direspon secara cepat mulai dari Presiden USA hingga para Gubernur Negara Bagian. Antara lain dengan menyelenggarakan pendidikan dengan paradigma baru yang disebut Contextual Teaching and Learning (CTL). Merupakan pendidikan progresif yang konsep awalnya diperkenalkan oleh John Dewey. Paradigma baru pendidikan itu membangun profesionalisme guru secara ketat dan peningkatan infrastruktur pendidikan secara besar-besaran. CTL juga diwarnai dengan sistem pendidikan melalui pendekatan inkuiri atau disebut “discovery approach”. Yakni pendekatan yang berorientasi pada pengolahan informasi dengan tujuan melatih pembelajar memiliki kemampuan berpikir hebat untuk dapat menemukan atau menciptakan karya ilmiah. Dengan pendekatan inkuiri, pembelajaran siswa di sekolah difokuskan untuk mahir mengumpulkan data dan fakta yang tengah membanjiri dunia guna membuat konsep unggulan. Pendekatan inkuiri juga bisa menumbuhkan inovasi nilai dan teknologi untuk mempertahankan kejayaan bangsa. Pendekatan itu menyadarkan segenap bangsa bahwa sistem sekolah merupakan investasi masa depan yang tiada taranya. Itulah kredo yang mendasari mengapa bangsa Amerika begitu getolnya melibatkan para guru untuk terlibat aktif dalam berbagai program riset nasional. Seperti yang terjadi dalam misi pesawat ruang angkasa Endeavour, dimana salah satu astronotnya adalah seorang Guru IPA Sekolah Dasar yang bernama Barbara Morgan.
*) CEO ZamrudTechnology, Alumni Universitas Paul Sabatier
Blog ini dibangun untuk merangkum serakan pemikiran penulis yang telah terbit di berbagai media masa maupun yang belum. Bila dirangkum, serakan pemikiran tersebut bermaksud mendorong sikap berdikari untuk membangkitkan negri dan menggambarkan perjalanan yang tidak terlalu rumit untuk menuju negeri harapan. Pada tahap awal, mayoritas pemikiran difokuskan dalam hal peranan Teknologi Informasi untuk perbaikan daya saing bangsa ("Nation Driven Information, Communication, and Broadcasting Technology")
Semua karya cipta, baik yang berupa tulisan maupun software dapat terealisasi terutama karena "Rahmat dari Allah SWT" serta dukungan dari rekan-rekan saya dari ZamrudTechnology, Crayonpedia, eDemocracy & Governance Institute, dan eBroadcasting Institute. Semoga membawa manfaat bagi bangsa, negara, dan kemanusiaan.
Leave a reply