e-demo2.JPG


Tahapan kampanye Pemilu 2009 sudah dimulai. Supaya rakyat tidak jenuh menghadapi hiruk pikuk demokrasi dibutuhkan cara berkampanye yang lebih cerdas, efektif, serta tidak memboroskan waktu dan sumber daya. Untuk meningkatkan kualitas berdemokrasi sesuai dengan perkembangan jaman dibutuhkan kampanye yang bercorak soft power yang bisa mengasah naluri publik dan memahami nalar politik. Definisi soft power untuk menjelaskan suatu pendekatan yang bersifat persuasif, komprehensif, menyuarakan hati nurani, serta mengucurkan empati dan kasih sayang. Kebalikannya adalah kampanye bercorak hard power yang mengedepankan cara koersi (coercion), kerumunan masa, hingga intimidasi dan pemaksaan kepada pihak lain. Ada pihak yang berpendapat bahwa kampanye bercorak soft power dianggap kurang populis dan tidak menggigit. Sebaliknya kampanye hard power dianggap lebih menggetarkan, cepat dicerna oleh rakyat jelata dan mampu menciptakan panggung sesaat bagi politisi. Namun, anggapan diatas bisa dikatakan keliru. Pasalnya, kampanye bercorak soft power pada era konvergensi teknologi informasi dan komunikasi (TIK) sekarang ini justru lebih efektif dan bisa menjalar dalam domain kerakyatan lebih luas. Apalagi teknologi internet yang berbasis web 2.0 semakin mengakselerasi kampanye bercorak soft power dengan berbagai wahana jejaring sosial yang lebih dahsyat.

Dalam wacana ilmu politik klasik, kampanye dikelompokkan menjadi dua jenis yakni kampanye pemilu bersifat jangka pendek yang biasanya hanya dilakukan menjelang Pemilu dan kampanye politik yang bersifat jangka panjang. Sistem demokrasi yang ideal jaman sekarang ini membutuhkan kampanye politik yang terus menerus sepanjang waktu guna membentuk citra positif. Juga untuk membangun reputasi dan mencari pemahaman bersama beserta solusi yang dihadapi bangsa. Kampanye bercorak soft power adalah jawaban diatas karena bisa dilangsungkan dalam jangka waktu yang tidak terbatas tanpa terkendala ruang. Selain itu hasilnya akan membuahkan retensi memori kolektif yang tidak mudah hilang dalam ingatan publik. Bahkan, kampanye soft power yang melibatkan teknologi internet berbasis web 2.0 setelah kampanye Pemilu 2009 usai bisa dilanjutkan menjadi semacam rumah virtual bagi konstituen. Rumah konstituen itu bisa menyerap aspirasi dan sarana komunikasi yang praktis dalam tugas-tugas legislasi seperti membuat undang-undang, peraturan daerah hingga menyusun APBN/APBD. Juga sangat efektif sebagai wahana laporan pertanggung jawaban parpol atau anggota legislatif kepada para pendukungnya.

Hingga saat ini marketing partai politik di tanah air banyak yang belum menemukan bentuk yang memesona. Masih didominasi dengan tebar baliho, bendera, poster dan stiker yang berisi foto dan janji manis dari calon peserta. Tidak jarang bentuk marketing politik diwarnai dengan bagi-bagi uang dan bantuan logistik secara terselubung. Padahal, kekuatan uang dan tebar gambar mestinya digeser dengan kekuatan perhatian rakyat lewat isu-isu yang strategis, mencerdaskan dan taktik pencitraan yang mulia. Seperti pada era revolusi kemerdekaan Indonesia dahulu. Dimana seorang pemimpin lahir karena buah pikir dan dialektika profesinya. Sedangkan pada saat ini kepemimpinan dalam berbagai tingkatan lahir begitu instan. Proses rekrutmen kepemimpinan tengah mengalami proses involusi dan bergerak tanpa karakter yang jelas. Buah pikir dan dialektika perjuangan seseorang seharusnya menjadi faktor terpenting dalam membentuk kekuatan perhatian rakyat dalam Pemilu.

Tidak bisa dimungkiri lagi bahwa di tanah air sedang berlangsung transformasi demokrasi yang mengedepankan Amerikanisasi proses politik. Ada peringatan penting dari O’Soughnessy yang wajib kita renungkan. Peringatan itu menyangkut penggunaan metode marketing politik yang mengedepankan kekuatan uang akan membusukkan arti demokrasi itu sendiri. Ada kecenderungan taktik pencitraan diri parpol yang akan bertarung dalam Pemilu 2009 masih puritan dan seragam. Mereka terjebak dalam jargon politik yang bombastis, kering ide dan mengumbar komitmen yang kurang sesuai dengan semangat jaman. Padahal, simpati rakyat akan terbentuk dengan baik apabila tokoh parpol mampu memposisikan dirinya sebagai orang biasa yang rendah hati, memiliki pesona, solusi dan mimpi masa depan yang luar biasa. Yang pada gilirannya sosok itu mampu menginspirasi dan mengakselerasi kehidupan rakyat menuju negeri harapan yang survive ditengah persaingan dunia yang semakin sengit. Marketing bisnis dan politik bisa dikatakan sebangun. Banyak fakta sejarah yang menunjukan bahwa perusahaan kecil mampu mengalahkan perusahaan raksasa. Produk perusahaan kecil bisa saja merontokkan penjualan dari produk perusahaan raksasa. Kisah perusahaan kecil es krim bernama Ben&Jerry’s yang bisa mengalahkan si raksasa Häagen Dazs merupakan salah satu contoh fenomena diatas. Fenomena itu sangat mungkin identik dengan peluang parpol kecil (baru berdiri) yang bisa saja mengalahkan parpol besar yang sudah lama berkiprah.

Kampanye bercorak soft power lebih mudah diterapkan antara lain dengan menggunakan teknologi internet dan Web 2.0. sehingga menjadi viral marketing. Betapa cepatnya penyebaran informasi kepada rakyat melalui teknologi Web 2.0 seperti Blog, Interactive Web (AJAX), Streaming Video YouTube, Slideshow Flickr. Partisipasi pemilih menggunakan internet dalam kampanye capres AS merupakan contoh aktual yang sedang berjalan pada saat ini. Bila dalam kampanye capres 2004 di AS digunakan web secara statis, maka dalam tahun 2008 dipakai Web 2.0 yang dinamis (Web 2.0 Presence). Dimana selain info tentang capres yang  statis, juga ada proses partisipasi atau interaktif dari pemilih melalui networking di Internet, Blogs, Situs Socio-Video, embedded Widgets dan lain-lain yang mampu menjangkau jutaan pemilih dalam waktu sangat singkat. Sangat beralasan jika di AS hampir semua politisi memiliki Blog di MySpace dan Facebook yang populer, untuk berinteraksi. Pada prinsipnya kampanye soft power dengan tumpuan Web 2.0 langkahnya adalah sebagai berikut. Pertama, membuat situs web untuk parpol atau tokohnya. Kemudian mengisi konten yang telah dirumuskan lalu menyarankan kepada para pendukungnya membuat Blog di Facebook atau MySpace dan mengisi dengan konten partai diatas agar diakses rakyat luas. Inilah hakekat viral marketing yang jumlahnya akan meningkat secara eksponensial. Melalui situs parpol dibangun komunitas Blogs para  pendukungnya dan mengisinya dengan berbagai aksi atau kegiatan bersama.

Sekedar catatan, aplikasi web 2.0 memiliki sifat harnessing collective intelligence. Yaitu memanfaatkan kecerdasan dan kreatifitas dari banyak orang sehingga terbentuk basis pengetahuan yang sangat besar. Dengan Blogosphere, Blogspot, Wordpress, dan lain-lain setiap orang bisa menulis blog-nya lalu saling berhubungan satu sama lain untuk membentuk jaringan, mirip seperti sel-sel otak (Neurotransmitter) manusia yang berjumlah sangat banyak namun bisa saling terkait (mengirim pesan) satu dengan lainnya dalam waktu singkat. Di era Web 1.0 dahulu, banyak pihak yang bersusah payah jika ingin membuat Web. Jika ingin membuat website gratis, paling-paling larinya ke Geocities. Itu pun harus paham seluk-beluk HTML sehingga cukup menyulitkan bagi orang awam. Namun, pada saat ini pengurus atau simpatisan parpol bisa menggunakan jasa layanan desain website dengan mudah. Salah satunya yang menonjol adalah Wetpaint. Aplikasi yang berbasis wiki itu memungkinkan kita mendesain web 2.0 secara mudah. Dengan web 2.0 pengurus atau simpatisan parpol bisa berkampanye secara interaktif dalam bentuk permainan ataupun sekedar intermezo. Berbagai atribut partai, video sampai lagu/mars parpol bisa mengalami proses kreasi secara interaktif. Gambar atau logo parpol bisa dibuat dalam berbagai bentuk hingga menjadi animasi yang segar. Dengan website diatas dibantu dengan aplikasi Pianographique yang tersedia, para simpatisan bisa mengkombinasikan musik kreasinya dengan video kegiatan parpol sehingga hasilnya terlihat lebih hidup. (*)

*) Penulis, CEO ZamrudTechnology, Alumni Universitas Paul Sabatier Toulouse Prancis.

Share