Kontan, 27 Desember 2007, oleh: Hemat Dwi Nuryanto

Determinasi partai politik untuk memperluas dukungan rakyat semakin gencar pada tahun 2008. Hal itu membutuhkan marketing politik yang dilakukan secara terus menerus. Dalam wacana ilmu politik, kampanye ada dua jenis yakni kampanye pemilu yang bersifat jangka pendek dan biasanya dilakukan menjelang Pemilu. Dan kampanye politik yang bersifat jangka panjang yang dilakukan kapan saja dan dimana saja. Sistem demokrasi yang ideal membutuhkan kampanye politik terus menerus sepanjang masa untuk membentuk image positif. Juga untuk membangun dan membentuk reputasi dan mencari pemahaman beserta solusi yang dihadapi bangsa. Kampanye politik membuahkan retensi memori kolektif yang tidak mudah hilang dalam ingatan publik. Menarik untuk disimak langkah kampanye politik dimedia masa oleh seorang ketua parpol yang menekankan sangat tingginya angka kemiskinan. Hal itu membuat gerah Presiden SBY, lalu menyanggahnya dengan menyajikan angka semu produk BPS. Sayangnya kampanye politik seperti diatas kebanyakan belum disertai strategi marketing yang jitu dengan menggunakan infrastruktur partai secara sistemik. Strategi marketing parpol pada 2008 sangat dibutuhkan karena menentukan kelangsungan hidupnya kedepan. Strategi itu bisa berjalan secara efektif jika kondisi “many leader without leaderships system” ( banyak pemimpin tetapi tidak ada sistem kepemimpinan ) yang menimpa parpol terlebih dahulu dipecahkan. Sampai saat ini tipe kepemimpinan yang berjalan di tubuh parpol adalah kepemimpinan kharismatik yang melekat pada personal ketua umum atau tokoh-tokohnya. Kepemimpinan kharismatik tersebut mudah mengundang kesetiaan dan pengabdian dalam modus yang sederhana dan kelewat instan. Tetapi tipe kepemimpinan ini sangat rentan didalam mengakomodir berbagai kepentingan dibawahnya. Tipe kepemimpinan itu kurang dapat membangun sebuah sistem politik yang modern dan rasional. Untuk itulah tantangan yang berat bagi parpol adalah bagaimana melakukan transformasi politik dari tipe kepemimpinan kharismatik yang sering kehabisan energi menuju kepemimpinan yang lebih rasional, cair dan adaptif.

Semangat jaman yang ditandai dengan kemajuan konvergensi teknologi informasi membutuhkan tipe kepemimpinan yang lebih rasional dan santun. Orang bijak mengatakan bahwa kemajuan bangsa pada saat ini tidak lagi ditentukan oleh sosok atau tokoh yang luar biasa, melainkan oleh mimpi atau visi yang luar biasa disertai kerja detail yang luar biasa. Mimpi dan kerja detail yang luar biasa itu merupakan ideologi universal yang bisa melahirkan pesona material dan spiritual yang amat dahsyat. Kondisi parpol pada saat ini banyak yang fatigue, sehingga langkahnya sering menempuh jalan pintas dan jauh dari usaha mencerdaskan rakyat. Untuk itulah diperlukan transformasi politik dengan segera. Transformasi ini sesuai dengan ciri-ciri utama politik modern yang dirumuskan oleh Samuel P. Huntington. Ciri pertama; adalah rasionalisasi dari otoritas. Yakni penggantian sejumlah otoritas politik tradisional yang tidak sesuai dengan semangat jaman. Dimana otoritas politik tradisionil ini sering menjelma menjadi kultus buta, mengeksploitasi politik sektarian yang picik, sulit berbagi dan anti toleransi.

Kedua; pengembangan infrastruktur dan suprastruktur untuk merevitalisasi program parpol. Infrastruktur lebih terarah kepada melengkapi perangkat keras, sedangkan suprastruktur kepada merevitalisasi spiritualitas partai. Dimana revitalisasi tersebut relevan dengan fenomena Web 2.0 yang ditadai dengan aksi saling berbagi dan membangun kecerdasan kolektif.

Ketiga; menggenjot partisipasi rakyat luas melalui pengembangan kelembagaan. Seperti asosiasi-asosiasi kepentingan untuk mengorganisasikan partisipasi tersebut kedalam strategi besar. Ciri ketiga inilah yang sangat urgent, dimana kondisi struktural partai yang hanya mengakomodir sedikit kader untuk menduduki kepengurusan partai harus dikembangkan melalui pembentukan lembaga-lembaga fungsional partai dengan wahana teknologi informasi dan komunikasi yang berbasis Web 2.0. Sehingga menjadi proses pemberdayaan rakyat melalui pendekatan societal learning concept ( konsep masyarakat belajar ). Ini disesuaikan dengan kebutuhan rakyat dan skala krisis yang dihadapi oleh daerah.

Tesis Samuel P. Huntington diatas bisa diaplikasikan secara ideal dengan bertumbuhnya ekosistem broadband ( pita lebar ) internet. Hal itu sangat relevan dengan proyeksi membangun ekosistem broadband, dimana 50 juta penduduk Indonesia dapat terhubung dengan internet pada 2012. Pada saat ini, baru 20 juta atau 10 persen penduduk Indonesia yang terhubung dengan internet. Pada gilirannya jurang kesenjangan digital semakin menyempit, lalu mendorong terjadinya Demokrasi 2.0 di tanah air. Istilah Demokrasi 2.0 diperkenalkan oleh Ilham Akbar Habibie, Ketua Investor Group Agains Digital Divide (IGADD) dibawah naungan The Habibie Center. Istilah itu merupakan penggolongan periodenisasi zaman demokrasi, dimana pada zaman Yunani kuno telah berlaku Demokrasi 0.0, kemudian disusul dengan sistem Demokrasi 1.0 yang serba konvensional dengan ciri khasnya yakni faktor mayoritas sebagai penentu kebijakan. Ilham Habibie menyatakan bahwa tesisnya tentang Demokrasi 2.0 terinspirasi dari fenomena di dunia maya yang dikenal dengan sebutan Web 2.0. Yaitu suatu aktifitas interaktif yang terjadi di internet, yang bisa membuat produk dan gerakan yang baru. Titik berat Demokrasi 2.0 adalah mewujudkan warga negara yang partisipatif dengan menjalin komunikasi dua arah antara rakyat dan negara via Web 2.0. Dengan demikian yang terjadi tidak hanya otomatisasi layanan publik, tetapi lebih dari itu terjadi efisiensi serta peningkatan citra pemerintah di hadapan rakyat yang dilayaninya.

Pengaruh luar biasa dari Web 2.0 bisa dilihat dari partisipasi dari pengunjung MySpace dan YouTube. Kedua website ini merupakan hasil inovasi sosok remaja yang tidak luar biasa tetapi memiliki mimpi dan kerja detail yang luar biasa. Akhirnya hasil inovasinya dihargai dengan uang yang luar biasa besarnya. Sejarah mencatat bahwa MySpace yang menjadi pionir website komunitas perkawanan (seperti Friendster) dibeli oleh Rupert Murdoch, raja media masa dunia. Sedangkan Website YouTube, yang konsepnya diadaptasi dari acara televisi America?s Funniest Home Videos, kini sudah menjadi milik Google. Semakin banyak brand yang melakukan kampanye online-nya dengan berbasis Web 2.0. Filosofi dari Web 2.0 sendiri adalah pengunjung bisa berpartisipasi aktif di website, tidak sekedar dicekokin pesan satu arah oleh brand. Malah, brand menyiapkan aplikasi yang mengajak pengunjung untuk terlibat serta menyebarkannya ke orang lain. Ideologi berbagai website yang berbasis Web 2.0 pada umumnya bertujuan sama, yakni membangun dan mencerdaskan komunitas.Tidak heran jika di Amerika Serikat, MySpace menjadi andalan, karena jumlah anggotanya mencapai 70 juta pengguna. Konsep partisipasi seperti itulah yang seharusnya menjadi inspirasi bagi parpol di tanah air dalam menjalankan strategi marketing politiknya. (*)

Share