Kontan, 25 April 2007
Predikat TVRI sebagai televisi publik belum disertai dengan langkah efisiensi dan perubahan karakter jurnalistik secara mendasar. Padahal, dengan situasi seperti sekarang ini rakyat sangat membutuhkan menu siaran yang segar, cerdas dan mampu memompa motivasi. Predikat sebagai Lembaga Penyiaran Publik ( LPP) belum diartikulasikan secara pas oleh para direksi. Kondisi TVRI semakin parah dengan terjadinya konflik segitiga antara Direksi – Serikat Karyawan – dan Dewan Pengawas yang terjadi akhir-akhir ini. TVRI semakin dihinggapi oleh penyakit struktural yang sangat kronis. Sehingga nafasnya tersengal-sengal hampir putus.
Untuk itu dibutuhkan terapi kausatif yang meliputi aspek budaya efisiensi dan transformasi usaha yang berbasis konvergensi multimedia. Transformasi itu membutuhkan solusi teknologi kontemporer yang tepat dan efisien. Untuk itu dibutuhkan manajemen yang visioner dan mampu membuat terobosan yang mengoptimalkan profesionalisme jurnalistik televisi, produksi siaran, dan effort teknologi. Sebagai penyandang LPP berimplikasi tuntutan untuk menyajikan menu siaran yang lebih merakyat namun tetap menjadi tontonan yang cerdas dan menyegarkan. Selain itu budaya kerja karyawan yang tertinggal oleh TV swasta secepatnya diperbaiki dengan memperkuat kompetensinya. Sehingga untuk kedepan rakyat tidak lagi menyaksikan “rombongan sirkus†dalam aktivitas peliputan. Dilain pihak aktivitas peliputan dan produksi siaran di kalangan TV swasta sudah sangat efisien dan hanya melibatkan sedikit personil namun menghasilkan mutu siaran yang optimal.
Tantangan ke-Indonesian yang terkait dengan eksistensi TV Publik harus kongruen dengan effort teknologi yang memiliki jangkauan siaran nasional yang efisien. Untuk itu pentingnya memilih model transformasional yang dapat dipergunakan untuk acuan dalam penerapan teknologi penyiaran maupun informatika terkini guna mendukung perbaikan kualitas dan pelayanan siarannya. Menghubungkan secara fikiran dari masyarakat yang tersebar serta mememelihara alasan rasional untuk bersama dengan berbagai latar-belakang etnis dan budaya merupakan tantangan kini dan masa depan yang harus segera dijawab secara komprehensif.
Selain mengatasi masalah laten berupa blank-spot siaran, penyediaan teknologi yang dapat mendorong perbaikan dan inovasi pelayanan juga merupakan tantangan serius bagi pengelola TV Publik. Layanan siaran yang semula hanya satu arah dan tidak berulang, selanjutnya dapat disimpan dan dipancarkan secara berulang-ulang sesuai permintaan. Fenomena tersebut merupakan bentuk layanan siaran publik baru yang perlu disediakan. Layanan tersebut akan sangat bermanfaat karena konten siaran yang berguna bagi publik seperti pendidikan, kesehatan, ilmu-pengetahuan, kewirausahaan, dan lain lain dapat dilihat ulang setiap saat sesuai kebutuhan [On-demand Broadcasting]. Tantangan teknologi penting lainnya TV Publik adalah penerapan e-Business yang dapat mendorong implementasi tata-kelola perusahaan yang baik secara sistemik. Sedangkan untuk menjamin operasionalisasi dari peralatan siaran yang ada atau Existing System dan melaksanakan komputerisasi studio siaran secara komprehensif dan terintegrasi diperlukan sistem TV-RISE ( TV & Radio Broadcasting Integrated System]. Yang mana sistem tersebut mampu menjamin pertukaran berita dan informasi multimedia antar 23 stasiun cabang dan antar stasiun-stasiun bergerak secara efektif dan efisien.
Diperlukan model transformasional TV Publik untuk menjadi lembaga yang lebih kompetitif. Model tersebut merupakan Strategic Alignment Model. Perubahan arah yang pertama adalah perubahan yang dilakukan melalui implementasi teknologi yang dapat membawa dampak pada Efisiensi dan Biaya, sedangkan perubahan arah kedua adalah perubahan yang dilakukan dalam rangka perbaikan dan inovasi pelayanan. Model transformasional akan lebih ideal jika memanfaatkan produk dan teknologi hasil Research & Development oleh putra-putri Indonesia sendiri. Keberpihakan produk itu perlu menjadi perhatian segenap manajemen TV Publik, karena akan membangkitkan industri dalam negri serta kemandirian nasional.
Beberapa effort dan inovasi teknologi untuk mencegah pemborosan TV Publik antara lain adalah, Pertama, implementasi e-Business yang dimulai dari e-Procurement & e-Auction sampai dengan ERP & CRM. Pemanfaatan e-Procurement & e-Auction akan mendorong proses pengadaan yang transparan serta dapat menurunkan biaya sampai dengan 50%. Inisiatif ini perlu menjadi prioritas dikarenakan rawannya proses pengadaan pada hampir setiap institusi dan lembaga pemerintahan.
Kedua, Implementasi sistem online untuk monitor kondisi peralatan siaran, inventori, jadwal & aktifitas perawatan, monitoring biaya perawatan. Apabila biaya perawatan peralatan dengan teknologi lama terlalu mahal maka dibuka peluang untuk mengganti dengan peralatan dengan teknologi baru.
Ketiga, Komputerisasi sistem siaran secara end-to-end [TV & Radio Broadcasting Integrated System] dengan memanfatkan kandungan lokal dan serta dukungan riset dari lembaga-lembaga terbaik di tanah air. Sistem ini akan membantu proses penyusunan program dan berita hingga on-air, pertukaran dan pengiriman konten antar stasiun cabang dengan stasiun bergerak, sehingga semuanya dapat berjalan secara efektif dan efisien. Proses peliputan juga didukung dengan memanfaatkan teknologi dan sumberdaya yang efisien, dimana hasil peliputan dapat dikirim via infrastruktur publik murah [internet] dan pemrosesan yang singkat hingga hasil peliputan siap untuk disiarkan.
Keempat, Implementasi infrastruktur siaran publik berbasis teknologi DVB-IP VSAT [Digital Video Broadcast-Internet Protocol VSAT], DVB-T/H [Digital Video Broadcast-Terestrial/Handheld], dan/atau DMB-T [Digital Media Broadcast-Terestrial]. Pemanfaatan dan implementasi DVB-IP VSAT System sebagai tulang-punggung teknologi infrastruktur siaran relatif tepat untuk menjangkau seluruh wilayah NKRI yang begitu luas. Sistem ini berpengaruh terhadap transformasi secara serentak dalam dua arah yaitu efisiensi dan mendukung perbaikan/inovasi layanan. Dalam konteks mengatasi Blank Spot Siaran dapat menekan biaya lebih dari 75%. Penerapan secara bertahap dan terencana teknologi siaran digital seperti DVB-T/H dan/atau DMB-T akan menjadi trend teknologi kedepan, meskipun perangkat TV digital masih terjangkau oleh sebagian kecil masyarakat, meskipun begitu di lima tahun kedepan berpeluang menjadi sangat terjangkau oleh masyarakat luas.
Kelima, Implementasi teknologi yang mendukung terbentuknya National News & Information Network. Pembangunan jaringan informasi lembaga penyiaran publik nasional dan daerah yang terintegrasi akan mendorong perubahan paradigma penyediaan informasi dan berita nasional dan daerah yang pada gilirannya dapat mendorong rasa persatuan dan kesatuan antar komponen bangsa.
Keenam, Penyediaan layanan Public to Public Broadcasting berupa penyediaan infrastruktur siaran inter dan antar daerah bagi LPP Daerah [TV dan Radio Publik Daerah] berbasis DVB-IP System, sehingga LPP Daerah memiliki jangkauan siaran yang menasional namun dapat dilaksanakan dengan biaya yang terjangkau. Layanan ini dapat mendorong terbentuknya sistem siaran publik yang berasal dari publik.
Ketujuh, Penyediaan fasilitas penyebaran informasi dan siaran murah yang bermanfaat bagi masyarakat luas [On demand Broadcasting & Distance Learning], misalnya siaran pendidikan Universitas Terbuka, Materi Ujian Negara, dan Paket Kejar dengan Depdiknas, penyebaran dan pelatihan IPTEK jarak jauh yang membawa manfaat besar bagi masyarakat luas. (*)
Share Blog ini dibangun untuk merangkum serakan pemikiran penulis yang telah terbit di berbagai media masa maupun yang belum. Bila dirangkum, serakan pemikiran tersebut bermaksud mendorong sikap berdikari untuk membangkitkan negri dan menggambarkan perjalanan yang tidak terlalu rumit untuk menuju negeri harapan. Pada tahap awal, mayoritas pemikiran difokuskan dalam hal peranan Teknologi Informasi untuk perbaikan daya saing bangsa ("Nation Driven Information, Communication, and Broadcasting Technology")
Semua karya cipta, baik yang berupa tulisan maupun software dapat terealisasi terutama karena "Rahmat dari Allah SWT" serta dukungan dari rekan-rekan saya dari ZamrudTechnology, Crayonpedia, eDemocracy & Governance Institute, dan eBroadcasting Institute. Semoga membawa manfaat bagi bangsa, negara, dan kemanusiaan.
asmarie
August 4th, 2010 at 12:29 pm
perkenalkan nama saya asmari…
saya sedang menjalankan tugas kuliah, yaitu KP (kerja kelompok)
mengenai DMB
apakah mas mengerti infrastruktur yang dibutuhkan untuk menjadikan DMB ini
nggak muluk2, meskipun hanya sebuah contoh
apa yang dibutuhkan
bagaimana kapasitasnya, memori yang digunakan
atau, ip tv sendiri?
yang harus dibutuhkan apa lagi??
besar jaringan, fiber optik atau menggunakan jaringan wireless antena tower?
mohon bantuannya
kalao mas tahu, tolong di emaikan ke alamat email saya
tankz